Finansial

ULTJ Akuisisi Frisian Flag, Strategi Right Issue Rp16,92 Triliun

ULTJ Akuisisi Frisian Flag, Strategi Right Issue Rp16,92 Triliun

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) tengah menyiapkan langkah besar dalam industri susu nasional. Perseroan berencana mengakuisisi 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI). Aksi korporasi ini bukan sekadar menambah portofolio produk, tetapi juga membuka ruang bagi perseroan untuk memperkuat operasi dan mengoptimalkan rantai pasok. Untuk merealisasikan rencana tersebut, ULTJ menyiapkan right issue atau penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) senilai Rp16,92 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp14,56 triliun akan digunakan untuk mengambil alih Frisian Flag.

Dalam keterangannya yang dikutip Minggu (20/9/2026), Presiden Direktur ULTJ, Sabana Prawira Widjaja, mengatakan bahwa perseroan melihat FFI sebagai aset yang dapat melengkapi bisnis yang sudah dimiliki. Akuisisi tersebut diharapkan memperkuat kemampuan operasional dan keuangan sekaligus menopang ekspansi bisnis ULTJ dalam jangka panjang.

“Perseroan meyakini pengambilalihan seluruh saham FFI merupakan suatu peluang yang dapat memberikan dampak positif bagi kelangsungan bisnis perseroan, baik secara operasional dan finansial dalam jangka panjang,” kata Sabana Prawira Widjaja dalam keterbukaan informasi BEI.

Alasan Strategis di Balik Akuisisi

Keputusan ULTJ mengakuisisi FFI tidak muncul begitu saja. Ada sejumlah pertimbangan strategis yang mendasarinya. Pertama, dari sisi produk, ULTJ dan FFI memiliki lini bisnis yang cukup beragam dan dapat saling mengisi. ULTJ selama ini dikenal lewat produk susu UHT Ultra Milk, selain sejumlah minuman nonsusu seperti Teh Kotak dan Sari Kacang Ijo. Sementara itu, FFI memiliki portofolio susu kental manis, susu bubuk, susu UHT, hingga produk nutrisi anak dengan merek Friso.

Dengan masuknya FFI ke dalam grup ULTJ, perseroan berpotensi memperluas pilihan produk yang dapat ditawarkan di pasar. Portofolio yang lebih lengkap memungkinkan ULTJ menjangkau lebih banyak segmen konsumen, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga keluarga. Kombinasi merek yang kuat di pasar susu dan minuman sehat diyakini dapat meningkatkan daya saing perseroan di industri yang semakin kompetitif.

Kedua, ULTJ melihat peluang sinergi dari jaringan fasilitas produksi kedua perusahaan. ULTJ memiliki pabrik di Padalarang dan Cikarang, Jawa Barat. Sementara itu, FFI mengoperasikan fasilitas di Pasar Rebo, Ciracas, dan Cikarang, Jakarta. Keberadaan fasilitas tersebut dapat menambah kapasitas produksi sekaligus memberikan fleksibilitas dalam pengolahan produk susu.

Meskipun nantinya berada dalam satu grup, masing-masing fasilitas tetap akan menjalankan operasionalnya secara mandiri. Namun, perseroan membuka peluang untuk melakukan koordinasi jika dibutuhkan. Misalnya dalam menentukan alokasi produksi, menggunakan jasa pihak ketiga (outsourcing), maupun berbagi sumber daya. Dengan demikian, sinergi tidak berarti menyeragamkan semua proses, melainkan mengoptimalkan apa yang sudah ada.

Ketiga, sinergi juga dapat diperoleh dari pengadaan bahan baku. Dengan kebutuhan yang lebih besar setelah kedua bisnis berada dalam satu grup, ULTJ melihat peluang untuk meningkatkan skala pengadaan dan memperbaiki perencanaan. Skala ekonomi yang lebih besar berpotensi menekan biaya bahan baku, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat posisi tawar terhadap pemasok. Dalam industri susu, bahan baku seperti susu segar, gula, dan bahan kemasan merupakan komponen biaya yang signifikan. Oleh karena itu, pengadaan yang lebih terintegrasi dapat menjadi sumber penghematan yang nyata.

Skema Right Issue 

Untuk membiayai akuisisi ini, ULTJ menyiapkan right issue hingga 7,87 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham. Jika seluruh saham tersebut terserap oleh pemegang saham dan investor, dana yang dihimpun mencapai sekitar Rp16,92 triliun. Sekitar 86,01% dana tersebut atau Rp14,56 triliun akan digunakan untuk mengakuisisi 100% saham PT Frisian Flag Indonesia melalui mekanisme inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk selain uang.

Mekanisme inbreng berarti pemilik saham FFI akan menyerahkan saham mereka kepada ULTJ sebagai setoran modal. Sebagai imbalannya, mereka akan menerima saham baru yang diterbitkan ULTJ melalui right issue. Dengan cara ini, ULTJ tidak perlu mengeluarkan uang tunai sebesar Rp14,56 triliun untuk membeli FFI. Sebaliknya, pemegang saham FFI akan menjadi bagian dari struktur pemegang saham ULTJ.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Jumat (18/9/2026), saham FFI saat ini dimiliki oleh FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH) sebesar 78,09%, Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd. (BWG) 16,91%, dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI) 5 persen. Setelah transaksi inbreng rampung, FCIH akan menjadi pengendali baru ULTJ dan wajib melakukan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) atas saham ULTJ milik publik sesuai POJK Nomor 9/2018.

Transaksi ini juga akan mengubah struktur pengendalian ULTJ. Pemegang saham utama dan pendiri ULTJ, termasuk Sabana Prawirawidjaja dan PT Prawirawidjaja Prakarsa, telah menyepakati pengalihan HMETD kepada pemegang saham FFI. Artinya, ada kesepakatan di antara para pemegang saham utama untuk mendukung kelancaran aksi korporasi ini. Kesepakatan tersebut menjadi sinyal bahwa akuisisi ini telah melalui pembahasan yang matang dan melibatkan pihak-pihak utama dalam perseroan.

Sinergi Produk dan Pasar

Dari sisi produk, kombinasi ULTJ dan FFI menciptakan portofolio yang saling melengkapi. ULTJ memiliki kekuatan di segmen susu UHT dengan merek Ultra Milk, serta minuman nonsusu seperti Teh Kotak dan Sari Kacang Ijo. Sementara itu, FFI memiliki produk susu kental manis, susu bubuk, susu UHT, dan nutrisi anak dengan merek Friso. Dengan portofolio yang lebih luas, ULTJ dapat menawarkan solusi produk yang lebih lengkap kepada konsumen.

Misalnya, untuk kategori susu pertumbuhan anak, ULTJ dapat memanfaatkan merek Friso yang sudah dikenal. Untuk kategori susu UHT keluarga, Ultra Milk tetap menjadi andalan. Sementara untuk minuman ringan sehat, Teh Kotak dan Sari Kacang Ijo dapat melengkapi penawaran. Diversifikasi ini penting karena selera konsumen terus berubah dan persaingan di industri minuman semakin ketat.

Selain itu, akuisisi ini juga membuka peluang untuk memperkuat distribusi. Dengan skala bisnis yang lebih besar, ULTJ dapat lebih efisien dalam menjangkau pasar, baik melalui ritel modern, pasar tradisional, maupun kanal digital. Jaringan distribusi yang lebih kuat akan membantu produk-produk baru maupun yang sudah ada untuk lebih mudah diterima pasar.

Sinergi Operasional

Sinergi operasional menjadi salah satu kunci dalam akuisisi ini. ULTJ dan FFI memiliki fasilitas produksi yang tersebar di beberapa lokasi. ULTJ memiliki pabrik di Padalarang dan Cikarang, Jawa Barat. FFI mengoperasikan fasilitas di Pasar Rebo, Ciracas, dan Cikarang, Jakarta. Dengan adanya fasilitas tersebut, ULTJ dapat meningkatkan kapasitas produksi dan fleksibilitas dalam pengolahan produk susu.

Meskipun masing-masing fasilitas tetap beroperasi secara mandiri, koordinasi tetap dimungkinkan. Misalnya, dalam menentukan alokasi produksi, perseroan dapat menyesuaikan beban produksi antara pabrik-pabrik yang ada. Jika salah satu pabrik memiliki kapasitas lebih, produksi dapat dialihkan atau dibagi. Selain itu, penggunaan jasa pihak ketiga (outsourcing) juga dapat menjadi opsi untuk menjaga efisiensi.

Sinergi lain datang dari pengadaan bahan baku. Dengan kebutuhan yang lebih besar, ULTJ dapat meningkatkan skala pengadaan dan memperbaiki perencanaan. Skala yang lebih besar memungkinkan perseroan mendapatkan harga yang lebih kompetitif dari pemasok, mengurangi biaya logistik, dan meningkatkan keandalan pasokan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperkuat margin keuntungan dan daya saing perseroan.

Dampak terhadap Struktur Pengendalian 

Akuisisi ini akan mengubah struktur pengendalian ULTJ. Setelah transaksi inbreng selesai, FCIH akan menjadi pengendali baru ULTJ. Karena itu, FCIH wajib melakukan Penawaran Tender Wajib (MTO) atas saham ULTJ milik publik sesuai POJK Nomor 9/2018. MTO adalah kewajiban bagi pemegang saham pengendali baru untuk menawarkan pembelian saham kepada pemegang saham publik dengan harga tertentu.

Bagi investor publik, MTO ini menjadi momen penting. Mereka memiliki kesempatan untuk menjual saham mereka kepada pengendali baru dengan harga yang ditentukan sesuai ketentuan. Namun, keputusan untuk menjual atau tetap memegang saham tentu bergantung pada prospek perseroan ke depan. Jika investor yakin bahwa sinergi ULTJ dan FFI akan menghasilkan kinerja positif, mereka mungkin memilih untuk tetap berinvestasi.

Dari sisi tata kelola perusahaan, perubahan pengendali perlu dicermati. FCIH sebagai bagian dari FrieslandCampina, perusahaan multinasional yang berpengalaman di industri susu, membawa serta keahlian, teknologi, dan jaringan global. Hal ini dapat menjadi nilai tambah bagi ULTJ, terutama dalam menghadapi persaingan di pasar domestik dan peluang ekspor.

Prospek dan Tantangan

Akuisisi ini menawarkan prospek yang menjanjikan. Dengan portofolio yang lebih lengkap, kapasitas produksi yang lebih besar, dan rantai pasok yang lebih terintegrasi, ULTJ berpotensi memperkuat posisinya di industri susu dan minuman Indonesia. Pasar susu nasional masih memiliki ruang pertumbuhan, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan kesehatan.

Namun, tantangan juga tidak ringan. Integrasi dua perusahaan dengan budaya kerja, sistem, dan proses bisnis yang berbeda memerlukan manajemen perubahan yang baik. Perseroan perlu memastikan bahwa sinergi yang direncanakan benar-benar terwujud, bukan hanya dalam dokumen, tetapi juga dalam praktik operasional sehari-hari.

Selain itu, kondisi ekonomi makro seperti nilai tukar, inflasi, dan harga bahan baku juga dapat memengaruhi kinerja. Industri susu sangat bergantung pada bahan baku impor dalam beberapa aspek, sehingga fluktuasi kurs dapat menjadi risiko. Oleh karena itu, pengelolaan risiko dan efisiensi biaya menjadi kunci.

Kesimpulan

Langkah ULTJ mengakuisisi 100% saham Frisian Flag Indonesia melalui right issue Rp16,92 triliun merupakan aksi korporasi strategis yang tidak hanya menambah produk, tetapi juga memperkuat operasi dan mengoptimalkan rantai pasok. Dengan portofolio yang saling melengkapi, fasilitas produksi yang tersebar, dan peluang sinergi pengadaan, ULTJ berpotensi memperkuat posisinya di industri susu nasional. Transaksi ini juga mengubah struktur pengendalian, dengan FCIH menjadi pengendali baru dan kewajiban MTO bagi pemegang saham publik. Jika direalisasikan dengan baik, akuisisi ini dapat menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang bagi ULTJ dan industri susu Indonesia.

FAQ

1. Apa yang dilakukan ULTJ terhadap Frisian Flag?
ULTJ berencana mengakuisisi 100% saham PT Frisian Flag Indonesia (FFI).

2. Berapa nilai akuisisi Frisian Flag oleh ULTJ?
Nilai akuisisi FFI sekitar Rp14,56 triliun.

3. Berapa total dana yang disiapkan ULTJ melalui right issue?
ULTJ menyiapkan right issue hingga Rp16,92 triliun.

4. Berapa jumlah saham baru yang diterbitkan dalam right issue ULTJ?
Sebanyak 7,87 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham.

5. Berapa persen dana right issue yang digunakan untuk akuisisi?
Sekitar 86,01% dana atau Rp14,56 triliun digunakan untuk mengakuisisi 100% saham FFI.

6. Apa itu mekanisme inbreng?
Inbreng adalah penyetoran modal dalam bentuk selain uang. Dalam transaksi ini, pemilik saham FFI menyerahkan saham mereka kepada ULTJ sebagai setoran modal, lalu menerima saham baru ULTJ.

7. Siapa saja pemegang saham FFI saat ini?
FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH) 78,09%, Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd. (BWG) 16,91%, dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI) 5 persen.

8. Apa dampak transaksi ini terhadap struktur pengendalian ULTJ?
Setelah transaksi inbreng selesai, FCIH akan menjadi pengendali baru ULTJ.

9. Apa kewajiban FCIH setelah menjadi pengendali baru ULTJ?
FCIH wajib melakukan Penawaran Tender Wajib (Mandatory Tender Offer/MTO) atas saham ULTJ milik publik sesuai POJK Nomor 9/2018.

10. Apa alasan ULTJ mengakuisisi FFI?
Selain menambah produk, akuisisi ini bertujuan memperkuat operasi, mengoptimalkan rantai pasok, memperluas portofolio, dan menciptakan sinergi dalam operasional serta pengadaan bahan baku.