Finansial

Mata Uang Asia Bergerak: Won Korea Melonjak, Rupiah Tertekan

Mata Uang Asia Bergerak: Won Korea Melonjak, Rupiah Tertekan

Mata uang Asia kembali bergerak beragam dalam melawan pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Melansir data Refinitiv, pada pukul 09.38 WIB, sebanyak enam dari 10 mata uang Asia berhasil menguat dari greenback. Sementara dua mata uang harus melemah dan dua sisanya bergerak stagnan. Dinamika ini mencerminkan kompleksitas pasar keuangan global yang masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter bank sentral utama, terutama The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ).

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won melonjak 1,01% ke posisi KRW 1.360,76/US$. Penguatan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Dolar Taiwan menyusul dengan penguatan 0,09%. Peso Filipina juga naik 0,07%, disusul dolar Singapura yang menguat 0,05%. Dong Vietnam dan ringgit Malaysia sama-sama menguat tipis 0,02%. Sementara yuan China dan baht Thailand bergerak stagnan terhadap dolar AS.

Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,34% ke posisi Rp17.885/US$. Pelemahan ini tentu menjadi perhatian bagi pelaku pasar domestik, terutama importir dan investor asing yang memantau stabilitas nilai tukar. Yen Jepang juga masih berada di zona merah dengan pelemahan 0,06%. Pelemahan yen terjadi di tengah pasar Jepang yang libur, sehingga pergerakan cenderung lebih terbatas namun tetap dibayangi risiko intervensi dari otoritas Jepang.

Faktor Eksternal Masih Mendominasi

Pergerakan pada mata uang Asia di pagi hari ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya dinamika dolar AS di pasar global. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 100,395. Angka ini berbalik dari penguatan 0,21% di penutupan perdagangan Senin kemarin. Kondisi ini menunjukkan dolar AS masih relatif kuat setelah pekan lalu mendapat dorongan dari kenaikan suku bunga The Fed dan sinyal bahwa pengetatan lanjutan masih terbuka.

DXY adalah indeks yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, termasuk euro, yen Jepang, pound sterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Pergerakan DXY menjadi acuan penting bagi pasar valuta asing global. Ketika DXY menguat, mata uang negara berkembang cenderung tertekan. Sebaliknya, ketika DXY melemah, mata uang Asia memiliki ruang untuk menguat.

Meskipun DXY melemah tipis pada pagi ini, tekanan terhadap beberapa mata uang Asia masih berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor domestik dan regional juga berperan dalam menentukan pergerakan nilai tukar. Misalnya, rupiah yang melemah 0,34% mungkin dipengaruhi oleh faktor internal seperti arus keluar modal asing, kebutuhan dolar untuk impor, atau sentimen pasar terhadap kebijakan domestik.

Yen Jepang Masih di Bawah Tekanan

Dikutip dari Reuters, yen masih menjadi salah satu fokus utama pasar. Mata uang Jepang kembali berada di bawah tekanan karena pelaku pasar menilai Bank of Japan (BOJ) masih kesulitan mengejar sikap hawkish bank sentral global lainnya. BOJ memang sudah menaikkan suku bunga pada Jumat pekan lalu ke level tertinggi dalam 31 tahun. Namun, keputusan tersebut belum cukup kuat mengangkat yen karena terdapat dua suara berbeda yang bernada dovish dan tidak ada panduan yang benar-benar tegas soal kenaikan suku bunga berikutnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan The Fed yang juga menaikkan suku bunga pekan lalu dan memberi sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan. Perbedaan arah ini membuat selisih suku bunga AS dan Jepang tetap lebar. “Jika BOJ tidak mengetatkan kebijakan lebih cepat daripada The Fed, selisih suku bunga AS-Jepang sekitar 275 basis poin akan terus mendukung transaksi carry trade berbasis yen,” ujar Carlos Casanova, senior Asia economist Union Bancaire Privée, dikutip dari Reuters.

Carry trade adalah strategi di mana investor meminjam mata uang dengan suku bunga rendah, seperti yen, lalu menginvestasikannya dalam mata uang dengan suku bunga lebih tinggi, seperti dolar AS. Selama selisih suku bunga tetap lebar dan yen cenderung melemah, carry trade menjadi menguntungkan. Namun, jika BOJ menaikkan suku bunga lebih agresif atau yen menguat tajam, carry trade bisa berbalik arah dan memicu volatilitas pasar.

Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 30% bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga jangka pendek ke 1,5% pada Oktober. Di sisi lain, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan berikutnya berada di kisaran 55%. Ekspektasi tersebut membuat dolar AS masih mendapat penopang, meski pada pagi ini DXY bergerak melemah tipis. Tekanan terhadap yen juga belum sepenuhnya mereda karena selisih imbal hasil masih lebih menguntungkan dolar AS.

Won Korea Selatan Melonjak Tajam

Won Korea Selatan menjadi bintang pagi ini dengan penguatan 1,01% ke posisi KRW 1.360,76/US$. Penguatan ini merupakan yang paling tajam di antara mata uang Asia lainnya. Beberapa faktor dapat menjelaskan lonjakan won. Pertama, sentimen positif terhadap ekonomi Korea Selatan yang didukung oleh kinerja ekspor yang kuat, terutama di sektor teknologi dan semikonduktor. Kedua, kemungkinan adanya intervensi dari otoritas moneter Korea Selatan untuk menstabilkan won setelah beberapa waktu tertekan.

Ketiga, arus masuk modal asing ke pasar saham dan obligasi Korea Selatan. Investor asing mungkin melihat Korea Selatan sebagai tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global. Keempat, faktor teknikal seperti aksi ambil untung (profit taking) setelah won melemah dalam beberapa sesi sebelumnya. Kombinasi faktor-faktor ini mendorong won menguat signifikan.

Penguatan won juga berdampak pada mata uang regional lainnya. Dolar Taiwan, peso Filipina, dolar Singapura, dong Vietnam, dan ringgit Malaysia semuanya menguat, meskipun dengan magnitude yang lebih kecil. Sementara yuan China dan baht Thailand stagnan, mungkin karena faktor domestik yang berbeda.

Rupiah Tertekan Paling Dalam

Di sisi lain, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,34% ke posisi Rp17.885/US$. Pelemahan ini memperpanjang tren tekanan terhadap rupiah yang sudah berlangsung beberapa waktu terakhir. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan pelemahan rupiah.

Pertama, kekuatan dolar AS secara global. Meskipun DXY melemah tipis pagi ini, secara keseluruhan dolar AS masih kuat setelah kenaikan suku bunga The Fed. Investor global cenderung menempatkan dana mereka di aset dolar AS yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dan risiko lebih rendah.

Kedua, arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia. Ketika investor asing menjual aset Indonesia dan mengkonversi rupiah ke dolar AS, permintaan dolar meningkat dan rupiah tertekan. Arus keluar ini bisa dipicu oleh sentimen risk-off global, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik, atau perbandingan imbal hasil yang kurang menarik.

Ketiga, kebutuhan dolar AS untuk impor dan pembayaran utang luar negeri. Indonesia masih mengimpor banyak barang, termasuk bahan baku dan barang modal, yang memerlukan dolar AS. Selain itu, ada kewajiban pembayaran utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta, yang jatuh tempo. Permintaan dolar untuk keperluan ini menambah tekanan pada rupiah.

Keempat, faktor domestik seperti ketidakpastian kebijakan atau sentimen politik. Meskipun tidak selalu dominan, faktor-faktor ini dapat memengaruhi persepsi investor terhadap risiko Indonesia. Dalam beberapa kasus, pernyataan pejabat atau kebijakan yang dianggap kurang mendukung pasar dapat memicu pelemahan rupiah.

BI Buka Suara

Di tengah pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) buka suara terkait isu yang beredar. Dalam pemberitaan yang dikutip, BI menegaskan bahwa rupiah bertanda tangan Purbaya tetap sah dipakai. Pernyataan ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mata uang nasional. Meskipun detail pernyataan tidak dijelaskan secara rinci dalam sumber, namun esensinya adalah BI memastikan bahwa uang rupiah yang beredar tetap valid dan tidak ada perubahan yang mengganggu fungsinya sebagai alat pembayaran yang sah.

Kepercayaan terhadap rupiah sangat penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Jika masyarakat dan pelaku pasar kehilangan kepercayaan, mereka cenderung menukar rupiah ke mata uang asing, yang justru memperburuk pelemahan. Oleh karena itu, komunikasi yang jelas dan transparan dari BI menjadi kunci dalam mengelola ekspektasi pasar.

Peringatan Krisis 1997

Dalam pemberitaan terpisah, disebutkan bahwa bank raksasa memberi warning tentang tiga kondisi menjelang krisis 1997 yang kini muncul. Meskipun tidak dijelaskan secara spesifik dalam sumber, peringatan ini menjadi alarm bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan. Krisis 1997 adalah salah satu momen terburuk dalam sejarah ekonomi Indonesia, di mana rupiah terdepresiasi tajam, banyak perusahaan bangkrut, dan terjadi kerusuhan sosial.

Jika kondisi serupa mulai muncul, pemerintah dan otoritas moneter perlu mengambil langkah preventif. Beberapa indikator yang biasanya menjadi perhatian adalah defisit transaksi berjalan yang melebar, utang luar negeri yang tinggi, cadangan devisa yang menipis, dan ketidakstabilan politik. Meskipun kondisi saat ini berbeda dengan 1997, kewaspadaan tetap diperlukan.

Harga Emas dan Perak Tersungkur

Dalam berita lain, disebutkan bahwa harga emas dan perak tersungkur, dengan bandar takut The Fed. Harga emas dan perak biasanya bergerak berlawanan dengan dolar AS. Ketika dolar AS menguat dan suku bunga naik, emas dan perak cenderung tertekan karena imbal hasil aset berbunga menjadi lebih menarik. Selain itu, kekhawatiran terhadap kebijakan The Fed yang lebih hawkish membuat investor mengurangi kepemilikan aset safe haven seperti emas.

Penurunan harga emas dan perak juga dapat memengaruhi mata uang negara-negara penghasil komoditas, seperti Australia, Kanada, dan beberapa negara Asia. Jika harga komoditas turun, pendapatan ekspor negara-negara tersebut berkurang, yang dapat melemahkan mata uang mereka.

Outlook dan Implikasi bagi Indonesia

Ke depan, pergerakan mata uang Asia masih akan dipengaruhi oleh dinamika global. Keputusan The Fed, BOJ, dan bank sentral lainnya akan menjadi faktor utama. Jika The Fed terus menaikkan suku bunga, dolar AS cenderung menguat, dan mata uang Asia bisa tertekan. Sebaliknya, jika The Fed melunak, mata uang Asia memiliki ruang untuk menguat.

Bagi Indonesia, stabilitas rupiah sangat penting. Rupiah yang stabil mendukung stabilitas harga, mengurangi risiko inflasi, dan menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah dan BI perlu terus berkoordinasi dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan cadangan devisa, dan kebijakan suku bunga yang tepat menjadi instrumen utama.

Pelaku usaha, terutama yang memiliki eksposur terhadap dolar AS, perlu melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar. Importir dapat menggunakan kontrak forward atau opsi valuta asing. Eksportir dapat memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk meningkatkan daya saing produk mereka di pasar global.

Investor juga perlu mencermati perkembangan ini. Diversifikasi portofolio, baik dalam mata uang maupun aset, dapat mengurangi risiko. Menempatkan dana di instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan horizon investasi menjadi kunci.

Kesimpulan

Mata uang Asia bergerak campur aduk pada Selasa (22/9/2026). Won Korea Selatan melonjak 1,01%, diikuti dolar Taiwan, peso Filipina, dolar Singapura, dong Vietnam, dan ringgit Malaysia yang menguat tipis. Yuan China dan baht Thailand stagnan. Sementara itu, rupiah melemah 0,34% ke Rp17.885/US$, dan yen Jepang melemah 0,06%. Faktor eksternal seperti kebijakan The Fed dan BOJ masih mendominasi. Yen tertekan karena BOJ dianggap belum cukup hawkish, sementara The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga. Rupiah tertekan oleh kekuatan dolar AS, arus keluar modal, dan kebutuhan dolar domestik. BI menegaskan rupiah tetap sah dipakai. Peringatan krisis 1997 dan penurunan harga emas menjadi sorotan. Ke depan, stabilitas nilai tukar menjadi kunci bagi Indonesia.

FAQ

1. Mata uang Asia mana yang menguat paling tajam pada 22 September 2026?
Won Korea Selatan, dengan penguatan 1,01% ke posisi KRW 1.360,76/US$.

2. Mata uang Asia mana yang melemah paling dalam?
Rupiah, dengan pelemahan 0,34% ke posisi Rp17.885/US$.

3. Berapa nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS?
Yen melemah 0,06% terhadap dolar AS.

4. Apa itu DXY?
DXY adalah indeks dolar AS yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

5. Berapa level DXY pada pagi ini?
DXY berada di posisi 100,395, melemah tipis 0,03%.

6. Mengapa yen Jepang masih tertekan?
Karena BOJ dianggap belum cukup hawkish dibandingkan The Fed, sehingga selisih suku bunga AS-Jepang tetap lebar.

7. Berapa selisih suku bunga AS-Jepang?
Sekitar 275 basis poin.

8. Apa itu carry trade?
Carry trade adalah strategi meminjam mata uang bersuku bunga rendah untuk diinvestasikan di mata uang bersuku bunga tinggi.

9. Berapa peluang BOJ menaikkan suku bunga pada Oktober?
Sekitar 30%.

10. Berapa peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya?
Sekitar 55%.