Teknologi

Transformasi Nokia ke Infrastruktur Jaringan, AI, dan 6G

Transformasi Nokia ke Infrastruktur Jaringan, AI, dan 6G

Nama Nokia selama bertahun-tahun identik dengan ponsel. Namun, arah bisnis perusahaan teknologi asal Finlandia itu kini jauh berbeda. Ketika ponsel bermerek Nokia tidak lagi mendominasi pasar seperti pada era 2000-an, Nokia Corporation justru memperoleh sebagian besar bisnisnya dari infrastruktur jaringan telekomunikasi, pusat data, lisensi teknologi, hingga kecerdasan buatan (AI). Perubahan ini bukan sekadar pergantian produk, melainkan transformasi besar dalam model bisnis, pasar sasaran, dan identitas perusahaan. Nokia hari ini lebih banyak bekerja di balik layar: membangun jaringan yang menghubungkan miliaran orang, mengelola data raksasa, dan menyiapkan fondasi menuju era 6G.

Strategi tersebut semakin terlihat sepanjang 2026. Nokia memperkuat kerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft dan NVIDIA, untuk membangun jaringan yang semakin otomatis dan dipersiapkan menuju era 6G. Langkah ini menunjukkan bahwa Nokia tidak lagi bersaing di pasar konsumen handset, tetapi di medan yang jauh lebih teknis dan strategis: infrastruktur telekomunikasi, komputasi awan, pusat data, dan AI.

Nokia dan Microsoft

Pada 17 September 2026, Nokia dan Microsoft mengumumkan pengembangan fondasi data terpadu berbasis AI untuk membantu operator telekomunikasi mengotomatisasi pengelolaan jaringan. Kolaborasi tersebut menggabungkan Nokia Data Suite dengan Microsoft Fabric. Nokia Data Suite menyediakan produk data khusus industri telekomunikasi, sementara Microsoft Fabric digunakan untuk mengintegrasikan penyimpanan, pengelolaan data, analitik, dan layanan berbasis AI.

Tujuannya adalah membuat data jaringan yang sebelumnya tersebar di berbagai sistem dapat digunakan lebih cepat oleh aplikasi AI. Nokia menyebut pendekatan tersebut dapat memangkas proses penyediaan data yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu menjadi hitungan menit. Dalam dunia telekomunikasi, kecepatan dan ketepatan data sangat penting. Operator harus memantau ribuan parameter jaringan, mulai dari kualitas sinyal, kapasitas, hingga gangguan layanan. Jika data tersebar dan lambat diolah, respons terhadap masalah juga melambat. Dengan integrasi ini, AI dapat bekerja lebih cepat dan akurat.

“Together, we are helping networks evolve from static infrastructures into programmable, AI-native platforms,” kata Senior Vice President Autonomous Networks Nokia, Vivek Jaiswal. Pernyataan itu menegaskan visi Nokia: jaringan masa depan bukan sekadar infrastruktur pasif, melainkan platform yang dapat diprogram dan memiliki kecerdasan bawaan.

Dalam praktiknya, AI tidak hanya digunakan untuk membaca laporan jaringan. Teknologi tersebut dikembangkan untuk mengidentifikasi gangguan, mencari kemungkinan penyebab masalah, memberikan rekomendasi, hingga menjalankan sejumlah alur kerja secara otomatis dengan pengawasan manusia. Artinya, AI berperan sebagai asisten cerdas yang membantu operator mengambil keputusan lebih cepat dan tepat. Namun, manusia tetap memegang kendali akhir, terutama untuk keputusan strategis dan situasi darurat.

AI Masuk ke Jaringan Telekomunikasi

Salah satu penerapannya adalah pengelolaan layanan Voice over New Radio atau VoNR pada jaringan 5G. Agen AI dapat digunakan untuk mendeteksi anomali layanan dan membantu operator menganalisis penyebabnya. VoNR adalah layanan suara berbasis 5G yang menuntut kualitas tinggi. Jika terjadi gangguan, AI dapat membantu menemukan akar masalah dengan cepat, sehingga operator dapat segera melakukan perbaikan.

Teknologi lain yang dikembangkan Nokia berkaitan dengan geo-experience. Sistem menghubungkan informasi pelanggan, kondisi jaringan, dan data radio frequency untuk mengetahui wilayah yang mengalami penurunan kualitas layanan atau kekurangan kapasitas. Dengan informasi ini, operator dapat melakukan optimasi secara lebih tepat sasaran. Misalnya, jika suatu wilayah mengalami kepadatan trafik, operator dapat menambah kapasitas atau mengatur ulang parameter jaringan.

Nokia juga mengembangkan predictive maintenance atau pemeliharaan prediktif. Data historis dan kondisi jaringan secara real time digunakan untuk memperkirakan potensi gangguan sebelum menimbulkan dampak lebih luas. Pendekatan ini mirip dengan sistem peringatan dini: perangkat atau jaringan yang berpotensi bermasalah dapat segera diperbaiki sebelum benar-benar rusak. Hasilnya, gangguan layanan dapat ditekan, biaya perawatan dapat dihemat, dan pengalaman pelanggan meningkat.

Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana AI mulai bergerak dari chatbot dan aplikasi konsumen menuju infrastruktur yang bekerja di belakang layanan internet dan telekomunikasi. AI tidak lagi hanya menjadi fitur tambahan, tetapi menjadi bagian inti dari operasional jaringan.

Nokia dan NVIDIA

Sehari sebelum mengumumkan penguatan kerja sama dengan Microsoft, Nokia juga mengungkap perkembangan teknologi AI-RAN bersama NVIDIA. AI-RAN merupakan pendekatan yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan Radio Access Network, bagian jaringan telekomunikasi yang menghubungkan perangkat pengguna dengan jaringan operator.

Nokia menyebut sejumlah operator di berbagai kawasan telah menjalankan proof of concept hingga uji lapangan teknologi AI-RAN menggunakan NVIDIA Aerial RAN Computer. Pengujian dilakukan bersama operator di Amerika Utara, Eropa, Asia-Pasifik, hingga Timur Tengah. Ini menunjukkan bahwa AI-RAN bukan lagi sekadar konsep laboratorium, tetapi sudah masuk ke tahap pengujian nyata di lapangan.

Nokia mengklaim platform AI-RAN yang dikembangkannya menunjukkan peningkatan efisiensi spektrum lebih dari 20 persen dalam pengujian. Pengembangan perangkat lunak lanjutan juga telah disiapkan untuk 2027 dan 2028. Efisiensi spektrum penting bagi operator karena frekuensi merupakan sumber daya terbatas. Semakin efisien jaringan menggunakan spektrum, semakin besar kapasitas data yang bisa dilayani tanpa harus selalu menambah frekuensi.

AI-RAN sekaligus dipandang sebagai salah satu tahapan menuju jaringan yang semakin AI-native pada era 6G. Jika 5G membawa konektivitas cepat, 6G diharapkan membawa jaringan yang lebih cerdas, adaptif, dan otonom. AI-RAN menjadi jembatan menuju visi tersebut.

Indonesia Masuk dalam Ekosistem AI Nokia

Pergerakan Nokia di sektor AI juga mempunyai hubungan langsung dengan Indonesia. Pada 6 Agustus 2026, Indosat Ooredoo Hutchison bersama Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA mengumumkan Zankore by Indosat, proyek infrastruktur AI yang dipersiapkan untuk melayani kebutuhan komputasi AI di kawasan Asia-Pasifik.

Proyek tersebut menargetkan kapasitas hingga 1 gigawatt NVIDIA DSX AI Factory. Infrastruktur yang dibangun diproyeksikan mendukung komputasi AI berskala besar, termasuk kebutuhan perusahaan dan pengembangan agentic AI. Keterlibatan Nokia menunjukkan posisinya tidak lagi sebatas perusahaan penyedia perangkat jaringan radio. Persaingan industri telekomunikasi telah meluas ke jaringan pusat data, otomatisasi, cloud, AI, hingga infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi.

Bagi Indonesia, proyek ini bisa menjadi bagian penting dari pengembangan ekosistem AI nasional. Infrastruktur komputasi AI yang besar memungkinkan perusahaan lokal, startup, dan institusi pendidikan mengembangkan aplikasi AI tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pusat data di luar negeri. Ini juga dapat mendorong transfer pengetahuan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang AI dan pusat data.

Mengapa Nokia Masih Untung?

Pertanyaan yang kerap muncul adalah bagaimana Nokia masih bertahan ketika ponselnya sudah tidak sepopuler dahulu. Jawabannya terletak pada perubahan model bisnis Nokia. Nokia Corporation saat ini bukan perusahaan yang bergantung pada penjualan smartphone kepada konsumen. Ponsel bermerek Nokia dalam beberapa tahun terakhir dipasarkan melalui HMD Global berdasarkan skema lisensi merek. Sementara Nokia Corporation lebih banyak memperoleh pendapatan dari bisnis jaringan telekomunikasi, infrastruktur IP dan optik, teknologi mobile, serta portofolio lisensi patennya.

Hasil keuangan terbaru memperlihatkan skala bisnis tersebut. Pada kuartal II 2026, Nokia mencatat penjualan bersih sebesar 4,815 miliar euro, naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan pada bisnis Network Infrastructure mencapai sekitar 2,04 miliar euro, sedangkan Mobile Infrastructure menghasilkan sekitar 2,68 miliar euro.

Yang menarik, penjualan Nokia kepada pelanggan sektor AI dan cloud melonjak 105 persen secara tahunan pada kuartal tersebut. Permintaan dari pembangunan pusat data dan infrastruktur AI menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru perusahaan. Ini menunjukkan bahwa Nokia telah berhasil mengalihkan fokus dari pasar konsumen yang fluktuatif ke pasar infrastruktur yang pertumbuhannya didorong oleh kebutuhan AI dan cloud.

Secara comparable atau setelah sejumlah item khusus disesuaikan, Nokia membukukan laba operasi 434 juta euro pada kuartal II 2026, meningkat 18 persen dibandingkan 367 juta euro pada periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk enam bulan pertama 2026, comparable operating profit mencapai 735 juta euro, naik 28 persen secara tahunan.

Namun angka comparable tersebut berbeda dengan laba yang dilaporkan berdasarkan laporan keuangan. Nokia mencatat laba periode berjalan sebesar 5 juta euro pada kuartal II 2026 setelah terdampak biaya restrukturisasi, sementara secara kumulatif Januari–Juni 2026 perusahaan membukukan laba 92 juta euro. Perbedaan ini wajar terjadi karena adanya biaya restrukturisasi dan item khusus lainnya. Yang penting, bisnis inti Nokia tetap menghasilkan laba operasional yang sehat.

Untuk keseluruhan 2026, Nokia memperkirakan comparable operating profit sebesar 2,1 miliar hingga 2,6 miliar euro. Proyeksi tersebut menunjukkan besarnya bisnis Nokia saat ini tidak lagi bergantung pada apakah masyarakat membeli ponsel Nokia atau tidak. Pada 2025, perusahaan juga masih membukukan laba bersih tahunan sebesar 660 juta euro, meskipun turun dari 1,284 miliar euro pada 2024.

Nokia Bukan Sekadar Perusahaan Ponsel

Transformasi tersebut menjelaskan perbedaan Nokia hari ini dengan perusahaan yang dikenal konsumen melalui Nokia 3310, seri N, hingga Lumia. Nokia sekarang menjalankan bisnis infrastruktur konektivitas yang mencakup jaringan mobile, fixed network, IP network, optical network, core network, hingga teknologi untuk pusat data. Perusahaan juga memiliki portofolio paten telekomunikasi yang dilisensikan kepada perusahaan lain.

Nokia menyebut telah menginvestasikan sekitar 160 miliar euro untuk penelitian dan pengembangan sejak 2000 serta memiliki puluhan ribu keluarga paten. Angka ini menunjukkan bahwa Nokia bukan perusahaan yang berhenti berinovasi. Ia terus mengembangkan teknologi dasar yang menjadi fondasi jaringan modern. Paten-paten tersebut juga menjadi sumber pendapatan lisensi yang stabil.

Artinya, menurunnya popularitas ponsel Nokia tidak otomatis berarti bisnis Nokia menghilang. Yang berubah justru pasar utamanya: dari konsumen yang membeli handset menjadi operator telekomunikasi, perusahaan teknologi, penyedia cloud, hingga perusahaan yang membangun pusat data AI. Perkembangan sepanjang 2026 semakin memperjelas arah tersebut. Dengan Microsoft, Nokia membawa AI ke pengelolaan operasional jaringan. Bersama NVIDIA, perusahaan mengembangkan AI-RAN menuju 6G. Sementara proyek seperti Zankore di Indonesia membawa Nokia masuk lebih dalam ke pembangunan infrastruktur komputasi AI.

Era ketika Nokia berjaya melalui penjualan ponsel memang telah berlalu. Namun perusahaan dengan nama yang sama masih menjalankan bisnis bernilai miliaran euro—hanya saja produk utamanya kini lebih banyak berada di balik layar jaringan yang digunakan masyarakat setiap hari. Nokia telah bertransformasi dari ikon ponsel menjadi salah satu pemain kunci di infrastruktur digital global.

Kesimpulan

Nokia Corporation telah mengalami transformasi besar. Dari perusahaan yang identik dengan ponsel, Nokia kini menjadi penyedia infrastruktur jaringan telekomunikasi, pusat data, lisensi teknologi, dan solusi AI. Kerja sama dengan Microsoft menghadirkan fondasi data terpadu berbasis AI untuk otomatisasi jaringan. Kolaborasi dengan NVIDIA mengembangkan AI-RAN menuju 6G dengan efisiensi spektrum lebih dari 20 persen. Di Indonesia, Nokia terlibat dalam proyek Zankore by Indosat bersama Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, dan NVIDIA, menargetkan kapasitas hingga 1 gigawatt NVIDIA DSX AI Factory. Secara finansial, Nokia masih mencatat penjualan dan laba operasi yang sehat, dengan pertumbuhan signifikan dari segmen AI dan cloud. Nokia bukan lagi sekadar perusahaan ponsel. Ia telah bertransformasi menjadi tulang punggung infrastruktur digital yang menghubungkan dunia.

FAQ

1. Apakah Nokia masih membuat ponsel?
Ponsel bermerek Nokia dipasarkan melalui HMD Global berdasarkan skema lisensi merek. Nokia Corporation sendiri lebih fokus pada infrastruktur jaringan, pusat data, lisensi teknologi, dan AI.

2. Apa bisnis utama Nokia saat ini?
Bisnis utamanya meliputi infrastruktur jaringan telekomunikasi, jaringan IP dan optik, teknologi mobile, pusat data, serta lisensi paten.

3. Apa kerja sama Nokia dengan Microsoft?
Mengembangkan fondasi data terpadu berbasis AI dengan menggabungkan Nokia Data Suite dan Microsoft Fabric untuk otomatisasi pengelolaan jaringan.

4. Apa manfaat kerja sama itu?
Memangkas waktu penyediaan data dari berminggu-minggu menjadi hitungan menit, mempercepat deteksi gangguan, dan mendukung otomatisasi alur kerja.

5. Apa itu AI-RAN?
AI-RAN adalah pendekatan yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan Radio Access Network, bagian jaringan yang menghubungkan perangkat pengguna dengan jaringan operator.

6. Apa hasil pengujian AI-RAN Nokia dan NVIDIA?
Nokia mengklaim peningkatan efisiensi spektrum lebih dari 20 persen dalam pengujian.

7. Kapan pengembangan perangkat lunak AI-RAN lanjutan disiapkan?
Untuk 2027 dan 2028.

8. Apa itu Zankore by Indosat?
Proyek infrastruktur AI yang diumumkan Indosat Ooredoo Hutchison bersama Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA untuk melayani kebutuhan komputasi AI di Asia-Pasifik.

9. Berapa kapasitas yang ditargetkan Zankore?
Hingga 1 gigawatt NVIDIA DSX AI Factory.

10. Mengapa Nokia masih untung meski ponselnya tidak laris?
Karena Nokia Corporation tidak bergantung pada penjualan smartphone. Pendapatannya berasal dari infrastruktur jaringan, lisensi paten, dan solusi AI/cloud.