Urusan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) kini tak harus dimulai dari kantor Dukcapil. Petugas bisa datang lebih dekat ke warga. Berbekal telepon pintar dan platform IKD Plus, layanan aktivasi didorong untuk bergerak dari meja pelayanan ke tengah masyarakat. Perubahan pola layanan itu menjadi bahasan utama Forum Dukcapil Prima bertema “Penguatan Peran Dukcapil Melalui IKD Plus untuk Percepatan Aktivasi IKD” yang digelar secara daring, Jumat (18/9/2026). Forum tersebut diikuti oleh sekitar 1.000 peserta dari jajaran Dukcapil pusat, provinsi, dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Forum dibuka Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri Teguh Setyabudi sebagai keynote speaker. Direktur Bina Aparatur Dukcapil Erliani Budi Lestari mengawali kegiatan dengan pengantar, sedangkan materi utama disampaikan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Muhammad Nuh Al Azhar. Forum ini menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi, memperkuat kapasitas aparatur, sekaligus berbagi pengalaman dan inovasi pelayanan administrasi kependudukan.
Direktur Bintur Dukcapil Erliani Budi Lestari mengatakan, Forum Dukcapil Prima menjadi ruang untuk menyamakan persepsi, memperkuat kapasitas aparatur, sekaligus berbagi pengalaman dan inovasi pelayanan administrasi kependudukan. “Percepatan aktivasi IKD tidak hanya berkaitan dengan penerapan teknologi, tetapi juga membutuhkan peran aktif dan komitmen dari seluruh jajaran Dukcapil, baik di tingkat pusat maupun daerah,” kata Erliani.
Menurut dia, Dinas Dukcapil provinsi dan kabupaten/kota memiliki peran penting dalam memastikan kesiapan aparatur, kualitas layanan, serta pelaksanaan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Karena itu, Forum Dukcapil Prima diarahkan untuk tidak sekadar menjadi ruang berbagi informasi. Forum ini juga menjadi sarana untuk memperkuat koordinasi agar kebijakan dan inovasi Dukcapil dapat diterapkan secara selaras di daerah.
Mengubah Cara Melayani
Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi mengatakan, penguatan IKD Plus harus diikuti perubahan cara kerja aparatur. Aktivasi IKD tidak cukup mengandalkan masyarakat yang datang ke kantor pelayanan. “Melalui IKD Plus, diharapkan kita akan lebih proaktif lagi. Kita akan betul-betul bisa hadir ke masyarakat untuk bisa melayani mereka dengan baik,” ujar Teguh saat membuka Forum Dukcapil Prima.
Menurut Teguh, pola pelayanan jemput bola selama ini masih menghadapi kendala sarana dan prasarana. Petugas harus membawa laptop, kamera, card reader, dan perangkat biometrik lain ketika bergerak melayani masyarakat. Perangkat-perangkat itu tidak ringan, memakan ruang, dan terkadang menyulitkan mobilitas petugas di lapangan. Akibatnya, jangkauan layanan menjadi terbatas dan tidak semua warga dapat terlayani dengan cepat.
IKD Plus menawarkan pola yang lebih ringkas. Petugas cukup membawa telepon pintar yang telah memiliki akses IKD Plus untuk membantu proses aktivasi IKD warga di lapangan. “Melalui IKD Plus, Bapak dan Ibu cukup membawa handphone yang ada IKD Plus-nya, kemudian juga bisa melakukan aktivasi IKD kepada masyarakat,” kata Teguh.
Dengan pola tersebut, jangkauan layanan dapat diperluas. Petugas tidak hanya menunggu warga datang ke kantor Dukcapil, tetapi dapat mendatangi lokasi yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat. Misalnya, petugas dapat hadir di sekolah, kampus, pasar, balai desa, posyandu, atau even-even publik lainnya. Kehadiran petugas di tengah masyarakat diharapkan mempercepat proses aktivasi IKD secara signifikan.
Teguh meminta jajaran Dukcapil memperkuat kapasitas petugas, memperluas jangkauan pelayanan, memperkuat edukasi, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. “Perlu melakukan sosialisasi dan edukasi yang lebih jernih ke masyarakat, ke semua pihak, ke semua stakeholder, agar mereka paham tentang apa yang akan kita laksanakan,” ujarnya.
Perluas Kolaborasi di Lapangan
Perluasan layanan aktivasi IKD juga membutuhkan jejaring yang lebih luas. Teguh mendorong Dinas Dukcapil berkoordinasi dengan berbagai unsur yang memiliki jangkauan hingga tingkat lapangan. Kolaborasi itu antara lain dapat melibatkan Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta agen dan pendamping perlindungan sosial. Dengan dukungan tersebut, aktivasi IKD dapat lebih mudah menjangkau masyarakat yang berada jauh dari pusat pelayanan. “Ini tentunya akan lebih memudahkan kita sebagai jajaran Dukcapil untuk betul-betul lebih memasifkan gerakan aktivasi IKD,” kata Teguh.
Ia menekankan, perluasan akses tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan keamanan data dan kepercayaan masyarakat. Menurut dia, Dukcapil kini menjadi fondasi bagi berbagai layanan publik. “Yang terakhir tentu saja adalah kita harus tetap menjaga keamanan dan kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Teguh mengatakan, IKD telah berkembang dari sekadar dokumen kependudukan digital menjadi salah satu fondasi Digital Public Infrastructure (DPI) untuk mendukung integrasi berbagai layanan publik. Artinya, IKD bukan hanya soal menggantikan KTP fisik dengan versi digital. Lebih dari itu, IKD menjadi kunci untuk membuka akses terhadap berbagai layanan digital, seperti kesehatan, pendidikan, perbankan, transportasi, dan bantuan sosial. Semakin banyak warga yang mengaktifkan IKD, semakin besar manfaat yang dapat dirasakan.
Layanan Bergerak dengan IKD Plus
Direktur PIAK Muhammad Nuh Al Azhar menjelaskan, IKD Plus dirancang untuk menjawab tantangan mobilitas layanan aktivasi IKD di lapangan. “Fokus utama kita saat ini adalah bagaimana melakukan percepatan skalabilitas aktivasi IKD secara masif,” ujar Nuh.
Ia mengatakan, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi salah satu tantangan dalam pelayanan jemput bola. Petugas harus membawa sejumlah perangkat ketika mendatangi masyarakat. Perangkat itu antara lain laptop, kamera, card reader, dan alat perekaman biometrik. Bobot dan jumlah perangkat tersebut membuat petugas kurang leluasa bergerak. Belum lagi risiko kerusakan atau kehilangan perangkat saat berada di lapangan.
Karena itu, IKD Plus mengubah pola layanan dari passive service menuju proactive and mobile service. “Melalui IKD Plus, kita melakukan pergeseran paradigma dari passive service menjadi proactive & mobile service,” kata Nuh. Pergeseran paradigma ini penting. Selama ini, layanan publik cenderung menunggu masyarakat datang. Dengan IKD Plus, layanan justru aktif mendatangi masyarakat. Pendekatan ini lebih inklusif karena menjangkau mereka yang mungkin tidak memiliki waktu, biaya, atau akses untuk datang ke kantor pelayanan.
Secara sederhana, IKD Plus merupakan aplikasi mobile untuk petugas atau operator Dukcapil dan agen terverifikasi. Aplikasi tersebut membantu proses verifikasi, validasi, dan aktivasi IKD warga secara langsung di lapangan. Petugas tidak lagi harus membawa seperangkat peralatan perekaman yang berat. Proses dapat dilakukan melalui telepon pintar yang terintegrasi dengan sistem pusat. IKD Plus juga dilengkapi dengan fitur pengenalan wajah dan pemindaian kode QR untuk mendukung proses verifikasi dan aktivasi.
Fitur pengenalan wajah memastikan bahwa orang yang mengaktivasi IKD adalah benar-benar pemilik identitas. Sementara pemindaian kode QR mempercepat proses verifikasi data. Dengan kombinasi kedua fitur tersebut, proses aktivasi menjadi lebih aman, cepat, dan akurat. Petugas juga dapat langsung mengetahui apakah data warga sudah sesuai atau masih ada yang perlu diperbaiki.
Strategi Percepatan Aktivasi IKD
Bagi daerah, percepatan aktivasi perlu dimulai dengan memetakan wilayah yang tingkat aktivasi IKD-nya masih rendah. Pemetaan ini penting agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran. Daerah dengan aktivasi rendah dapat menjadi prioritas kunjungan petugas. Selain itu, pemetaan membantu menentukan jumlah operator dan agen yang dibutuhkan.
Jajaran Dukcapil kemudian dapat menyiapkan operator dan agen yang memiliki hak akses sesuai ketentuan. Hak akses ini harus diberikan secara hati-hati untuk menjaga keamanan data. Hanya petugas terverifikasi yang boleh melakukan aktivasi. Mereka juga harus mengikuti pelatihan agar memahami prosedur dan etika pelayanan.
Titik layanan juga dapat diperluas. Kegiatan publik, sekolah, kampus, maupun penyaluran bantuan sosial dapat menjadi ruang untuk mendekatkan layanan aktivasi IKD kepada masyarakat. Misalnya, saat pembagian bantuan sosial, petugas Dukcapil dapat membuka meja layanan aktivasi IKD. Warga yang datang untuk menerima bantuan sekaligus dapat mengaktifkan IKD mereka. Sinergi semacam ini menghemat waktu dan tenaga.
Dengan pola tersebut, transformasi IKD tidak berhenti pada pemindahan identitas ke dalam bentuk digital. Dukcapil juga mengubah cara layanan itu hadir, dari masyarakat yang datang mencari layanan, menjadi layanan yang lebih aktif menjangkau masyarakat. Perubahan itulah yang diharapkan mempercepat aktivasi IKD sekaligus membuat manfaat identitas digital semakin mudah dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.
Tantangan dan Solusi
Meskipun IKD Plus menawarkan banyak kemudahan, implementasinya tidak lepas dari tantangan. Pertama, kesiapan infrastruktur telekomunikasi di daerah terpencil. Aplikasi mobile memerlukan koneksi internet yang stabil. Di beberapa wilayah, sinyal masih terbatas. Oleh karena itu, perlu ada strategi khusus, misalnya dengan mengunduh data terlebih dahulu atau menggunakan koneksi satelit di lokasi tertentu.
Kedua, kapasitas sumber daya manusia. Petugas perlu dilatih agar mahir menggunakan IKD Plus. Mereka juga harus memahami aspek keamanan data dan privasi. Pelatihan berkala sangat diperlukan.
Ketiga, kesadaran masyarakat. Masih ada warga yang belum memahami manfaat IKD. Sosialisasi harus dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami. Melibatkan tokoh masyarakat, kader posyandu, dan relawan dapat membantu.
Keempat, keamanan data. Aktivasi IKD melibatkan data pribadi yang sensitif. Sistem harus dilindungi dari serangan siber. Audit keamanan dan enkripsi data menjadi keharusan.
Kelima, koordinasi antarlembaga. Dukcapil tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dari pemerintah daerah, kepolisian, TNI, dan lembaga sosial sangat diperlukan.
Manfaat IKD bagi Masyarakat
IKD menawarkan banyak manfaat. Pertama, praktis. Warga tidak perlu membawa KTP fisik ke mana-mana. Cukup dengan ponsel, identitas digital dapat ditunjukkan. Kedua, aman. IKD dilengkapi dengan verifikasi biometrik dan QR code, sehingga sulit dipalsukan. Ketiga, terintegrasi. IKD dapat digunakan untuk berbagai layanan publik, seperti kesehatan, perbankan, dan transportasi. Keempat, efisien. Proses administrasi menjadi lebih cepat karena data sudah terverifikasi. Kelima, mendukung transformasi digital nasional.
Dengan IKD, masyarakat dapat mengakses layanan tanpa harus antre panjang. Misalnya, saat berobat di puskesmas, cukup menunjukkan IKD. Saat membuka rekening bank, IKD dapat digunakan sebagai verifikasi identitas. Saat naik transportasi umum, IKD bisa menjadi tiket. Semua serba digital dan terhubung.
Peran Dukcapil di Era Digital
Dukcapil kini bukan sekadar instansi yang menerbitkan dokumen kependudukan. Dukcapil telah bertransformasi menjadi pengelola data kependudukan yang menjadi fondasi layanan publik digital. Data yang akurat dan terpercaya memungkinkan pemerintah memberikan layanan yang tepat sasaran. Misalnya, bantuan sosial dapat disalurkan kepada orang yang benar-benar berhak. Program kesehatan dapat menjangkau sasaran yang tepat. Pendidikan dapat direncanakan berdasarkan data yang valid.
Oleh karena itu, percepatan aktivasi IKD menjadi prioritas. Semakin cepat warga mengaktifkan IKD, semakin cepat pula manfaat transformasi digital dirasakan. Forum Dukcapil Prima menjadi katalis untuk mempercepat proses tersebut. Melalui forum ini, jajaran Dukcapil dari pusat hingga daerah dapat berbagi pengalaman, belajar dari praktik terbaik, dan menyusun strategi bersama.
Kesimpulan
IKD Plus membawa perubahan besar dalam layanan aktivasi Identitas Kependudukan Digital. Dari yang semula menunggu warga datang ke kantor, kini petugas dapat menjemput bola dengan hanya membawa telepon pintar. Forum Dukcapil Prima menjadi wadah untuk memperkuat kapasitas aparatur dan menyamakan persepsi. Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi menekankan pentingnya perubahan cara kerja, kolaborasi lintas sektor, serta keamanan data. IKD Plus memungkinkan layanan bergerak dari passive service menjadi proactive and mobile service. Dengan fitur pengenalan wajah dan QR code, proses verifikasi dan aktivasi menjadi lebih cepat dan aman. Strategi percepatan dilakukan dengan memetakan wilayah, menyiapkan operator, dan memperluas titik layanan. Tantangan tetap ada, tetapi dengan kolaborasi dan komitmen, aktivasi IKD dapat dipercepat. Pada akhirnya, IKD bukan sekadar dokumen digital, melainkan fondasi Digital Public Infrastructure yang mendukung integrasi layanan publik dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
FAQ
1. Apa itu IKD?
IKD adalah Identitas Kependudukan Digital, versi digital dari dokumen kependudukan yang dapat diakses melalui ponsel.
2. Apa itu IKD Plus?
IKD Plus adalah aplikasi mobile untuk petugas atau operator Dukcapil dan agen terverifikasi guna melakukan verifikasi, validasi, dan aktivasi IKD di lapangan.
3. Apa tujuan Forum Dukcapil Prima?
Menyamakan persepsi, memperkuat kapasitas aparatur, dan berbagi pengalaman serta inovasi pelayanan administrasi kependudukan.
4. Kapan Forum Dukcapil Prima digelar?
Jumat, 18 September 2026, secara daring.
5. Siapa yang membuka forum?
Dirjen Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi.
6. Apa perubahan paradigma yang diusung IKD Plus?
Dari passive service menjadi proactive and mobile service.
7. Apa kendala layanan jemput bola sebelumnya?
Petugas harus membawa laptop, kamera, card reader, dan perangkat biometrik yang berat.
8. Apa keunggulan IKD Plus?
Petugas cukup membawa telepon pintar, sehingga lebih ringkas dan mobile.
9. Fitur apa saja yang ada di IKD Plus?
Fitur pengenalan wajah dan pemindaian kode QR untuk verifikasi dan aktivasi.
10. Siapa saja yang bisa menjadi operator IKD Plus?
Petugas atau operator Dukcapil dan agen terverifikasi yang memiliki hak akses sesuai ketentuan.