Layanan Publik

Pemadaman Listrik Bergilir di Makassar, PLN Targetkan Normal pada 5 September 2026

Pemadaman Listrik Bergilir di Makassar, PLN Targetkan Normal pada 5 September 2026

Pemadaman listrik bergilir yang melanda sejumlah wilayah Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir akhirnya mendapatkan titik terang. PT PLN (Persero) memastikan kondisi kelistrikan di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) akan kembali normal pada 5 September 2026. Kepastian ini disampaikan langsung oleh General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulselrabar, Edyansyah, setelah bertemu dengan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Balai Kota Makassar pada Selasa (1/9/2026).

Pertemuan tersebut menjadi momen penting untuk menjawab keresahan masyarakat yang selama beberapa hari terakhir harus menghadapi gangguan pasokan listrik. Pemadaman bergilir yang terjadi telah berdampak luas pada aktivitas rumah tangga, pelaku usaha, pelayanan publik, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.

Penyebab Utama

Edyansyah menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan berkurangnya pasokan tenaga listrik adalah pemeliharaan yang sedang dilakukan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di IPP Jeneponto. Pemeliharaan tersebut berdampak pada berkurangnya kapasitas pembangkit yang masuk ke dalam sistem kelistrikan Sulselrabar.

Pembangkit tersebut memiliki kapasitas sebesar 125 megawatt (MW). Selama masa pemeliharaan, kapasitas sebesar itu untuk sementara tidak dapat masuk ke dalam sistem kelistrikan, sehingga ketersediaan pasokan listrik menjadi berkurang secara signifikan.

"Hanya saja satu-dua hari yang lalu kita sempat ada kejadian. Kita ada pemeliharaan terkait dengan PLTU yang ada di IPP Jeneponto sebesar 125 MW yang berdampak terhadap kekurangan pasokan tenaga listrik," kata Edyansyah.

Total 300 MW Kapasitas Akan Pulih

Selain kapasitas 125 MW yang sedang dalam pemeliharaan, PLN mengungkapkan bahwa masih terdapat kapasitas pembangkit lain yang sedang dalam proses pemulihan di PLTU Jeneponto. Total kapasitas yang akan pulih diperkirakan mencapai sekitar 300 MW.

"Di PLTU Jeneponto itu masih ada kurang lebih 300 megawatt yang akan pulih," ungkap Edyansyah.

Pemulihan kapasitas pembangkit tersebut merupakan bagian dari upaya PLN untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan dan memastikan kontinuitas pasokan listrik kepada masyarakat. Edyansyah menambahkan bahwa kapasitas 125 MW akan pulih pada tanggal 5 September 2026, dan ada kemungkinan pemulihan bisa lebih cepat.

"Untuk 125 megawatt akan pulih di tanggal 5. Mungkin nanti bisa lebih cepat lagi di bulan September," katanya.

Target Normalisasi pada 5 September 2026

PLN optimistis kondisi sistem kelistrikan akan membaik secara signifikan pada awal September. Edyansyah menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari manajemen PLTU Jeneponto, kondisi sistem kelistrikan diperkirakan akan kembali normal sekitar tanggal 5 September 2026.

"Berdasarkan informasi dari manajemen PLTU Jeneponto, inshaallah pada tanggal kurang lebih tanggal 5, kondisi sistem kelistrikan membaik kembali," kata Edyansyah.

Ia juga menegaskan bahwa kondisi pemadaman yang terjadi saat ini hanyalah kondisi singkat yang disebabkan oleh ketidaksiapan pasokan tenaga listrik secara sempurna. Setelah seluruh kapasitas pembangkit pulih, sistem kelistrikan di wilayah Sulselrabar diharapkan kembali normal.

"Ini adalah kondisi singkat terkait dengan ketidaksiapan pasokan tenaga listrik secara sempurna. Insyaallah nanti di tanggal 5 semua kondisi sistem akan jauh lebih baik, bahkan normal," tuturnya.

Desakan Wali Kota Makassar

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin telah menyampaikan desakannya kepada PLN agar segera mencari solusi atas pemadaman bergilir yang dikeluhkan masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, Munafri menekankan bahwa pemadaman listrik berdampak langsung terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.

"Kami dari pemerintah, berharap PLN bisa mencari solusi secepatnya agar pemadaman bergilir ini tidak berlangsung lama," kata Munafri.

Munafri juga menegaskan pentingnya pasokan listrik yang stabil untuk menunjang aktivitas masyarakat. Listrik telah menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar lagi, dan gangguan pada pasokan listrik akan langsung terasa dampaknya.

"Perlu normal. PLN ini menunjang aktivitas masyarakat," katanya.

Dampak bagi Masyarakat

Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Makassar telah menimbulkan berbagai dampak negatif. Di sektor rumah tangga, masyarakat harus menghadapi ketidaknyamanan karena peralatan elektronik tidak dapat digunakan secara optimal. Kulkas, kipas angin, AC, dan perangkat lainnya mati secara bergantian.

Di sektor usaha, para pelaku UMKM seperti penjual makanan, laundry, percetakan, dan bengkel mengalami kerugian karena aktivitas produksi mereka terganggu. Toko-toko dan pusat perbelanjaan juga harus beroperasi dengan penerangan seadanya atau menggunakan genset yang menambah biaya operasional.

Pelayanan publik seperti rumah sakit, puskesmas, sekolah, dan kantor pemerintahan juga ikut terdampak. Meskipun fasilitas-fasilitas vital umumnya memiliki genset cadangan, biaya operasional untuk bahan bakar genset menjadi beban tambahan.

Pentingnya Pemeliharaan Pembangkit

Meskipun menimbulkan ketidaknyamanan, pemeliharaan pembangkit listrik merupakan langkah yang tidak bisa dihindari. PLTU dan pembangkit lainnya membutuhkan perawatan rutin untuk memastikan kinerjanya tetap optimal dan tidak mengalami kerusakan yang lebih serius di kemudian hari.

Tanpa pemeliharaan yang memadai, risiko kerusakan mendadak akan semakin besar, dan dampaknya justru bisa lebih parah daripada pemadaman bergilir yang terjadi saat ini. Oleh karena itu, pemeliharaan yang sedang dilakukan di PLTU IPP Jeneponto sejatinya adalah investasi untuk keandalan jangka panjang.

Namun, yang menjadi catatan adalah pentingnya perencanaan dan komunikasi yang baik antara PLN dan masyarakat. Pemeliharaan besar seharusnya dijadwalkan pada waktu yang tepat dan diumumkan secara luas agar masyarakat dapat bersiap-siap.

Sistem Kelistrikan Sulselrabar

Pemadaman bergilir di Makassar juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh sistem kelistrikan di wilayah Sulselrabar. Wilayah ini memiliki karakteristik geografis yang beragam, dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan populasi.

Ketersediaan cadangan pembangkit yang cukup menjadi faktor penting untuk mengantisipasi gangguan. Ketika satu pembangkit sedang dalam pemeliharaan, pembangkit lain harus mampu menutupi kekurangannya. Jika cadangan daya tidak mencukupi, pemadaman bergilir menjadi solusi yang tidak terhindarkan.

Ke depan, PLN perlu terus berinvestasi dalam penambahan kapasitas pembangkit dan peningkatan keandalan jaringan transmisi dan distribusi. Diversifikasi sumber energi juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis pembangkit.

Harapan ke Depan

Dengan target normalisasi pada 5 September 2026, masyarakat Makassar berharap gangguan listrik ini akan segera berakhir. Keandalan pasokan listrik adalah fondasi penting bagi aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

PLN diharapkan dapat memenuhi target tersebut tepat waktu, bahkan jika memungkinkan lebih cepat. Komunikasi yang transparan kepada masyarakat juga menjadi hal yang sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Sementara itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap hemat dalam menggunakan listrik, terutama pada jam-jam beban puncak. Penggunaan listrik yang bijak dapat membantu mengurangi beban sistem dan mencegah terjadinya pemadaman tambahan.

Penutup

Pemadaman listrik bergilir di Makassar yang terjadi akibat pemeliharaan PLTU IPP Jeneponto diharapkan akan segera berakhir pada 5 September 2026. PLN telah menyampaikan komitmennya untuk memulihkan pasokan listrik secepat mungkin, dengan total kapasitas sekitar 300 MW yang akan kembali masuk ke sistem.

Desakan dari Wali Kota Makassar menunjukkan bahwa pemadaman listrik adalah persoalan serius yang berdampak langsung pada hajat hidup masyarakat. Oleh karena itu, upaya pemulihan harus dilakukan dengan prioritas tinggi.

Semoga gangguan ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk terus memperkuat keandalan sistem kelistrikan, sehingga kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Pasokan listrik yang andal adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa penyebab pemadaman listrik bergilir di Makassar?

Pemadaman disebabkan oleh pemeliharaan PLTU di IPP Jeneponto yang mengurangi kapasitas pembangkit sebesar 125 MW dari sistem kelistrikan Sulselrabar.

2. Kapan pemadaman listrik diperkirakan berakhir?

PLN menargetkan kondisi kelistrikan kembali normal pada 5 September 2026.

3. Berapa total kapasitas pembangkit yang akan pulih?

Total kapasitas yang akan pulih diperkirakan sekitar 300 MW, termasuk 125 MW yang saat ini sedang dalam pemeliharaan.

4. Apa tanggapan Wali Kota Makassar?

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meminta PLN segera mencari solusi agar pemadaman bergilir tidak berlangsung lama karena berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.

5. Apakah pemadaman hanya terjadi di Makassar?

Pemadaman terjadi di sejumlah wilayah di Kota Makassar, namun sistem kelistrikan yang terdampak mencakup wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar).

6. Apa yang dilakukan PLN untuk mengatasi masalah ini?

PLN terus memantau proses pemulihan pembangkit di PLTU Jeneponto dan berkoordinasi dengan manajemen pembangkit untuk mempercepat normalisasi.

7. Apakah ada kemungkinan pemulihan lebih cepat?

Ya, PLN menyebut ada kemungkinan pemulihan kapasitas 125 MW bisa lebih cepat dari tanggal 5 September 2026.

8. Apa dampak pemadaman bagi pelaku usaha?

Pelaku usaha mengalami kerugian karena aktivitas produksi dan operasional terganggu, serta harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar genset.

9. Apakah pemeliharaan pembangkit selalu menyebabkan pemadaman?

Tidak selalu. Pemadaman terjadi ketika kapasitas pembangkit yang sedang dipelihara tidak dapat ditutupi oleh pembangkit lain yang tersedia.

10. Apa yang harus dilakukan masyarakat selama pemadaman?

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, menghemat penggunaan listrik terutama pada jam beban puncak, dan memantau informasi resmi dari PLN.