Harga minyak mentah dunia kembali melonjak dan kini menembus level di atas 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini berpotensi berdampak signifikan terhadap harga BBM di Indonesia, terutama untuk produk nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex. Lonjakan ini terjadi di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas, memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak global.
Pada awal perdagangan Senin (14/9/2026), harga minyak Brent naik 2,90 dolar AS atau 2,77 persen menjadi 107,51 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,27 persen ke level 102,32 dolar AS per barel. Dalam sepekan, harga Brent dan WTI bahkan sudah mencatat kenaikan lebih dari 8 persen. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir dan memicu kekhawatiran akan dampak berantai terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Pemicu Lonjakan Harga Minyak
Lonjakan harga minyak dunia tidak terjadi tanpa sebab. Ada beberapa faktor geopolitik yang saling berkaitan dan menciptakan ketidakpastian pasokan di pasar global.
1. Serangan Houthi ke Arab Saudi
Kelompok Houthi dilaporkan melancarkan serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk ke fasilitas energi. Serangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dari salah satu eksportir terbesar dunia.
2. Gangguan Pipa Minyak East-West
Salah satu fasilitas yang terdampak adalah pipa minyak East-West milik Arab Saudi. Jalur tersebut ditutup setelah terkena serangan drone. Padahal, pipa ini menjadi jalur alternatif untuk mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Penutupan pipa ini mengurangi fleksibilitas Arab Saudi dalam mengekspor minyak, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan pada harga.
3. Gangguan di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz
Gangguan juga terjadi di sekitar Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi lalu lintas energi dunia. Kedua selat ini merupakan choke point yang sangat vital. Jika salah satu terganggu, dampaknya bisa sangat besar terhadap pasokan global. Risiko terhadap pasokan inilah yang kemudian ikut mendorong harga minyak.
Kombinasi ketiga faktor ini menciptakan premi risiko geopolitik yang tinggi di pasar minyak. Pedagang dan investor berspekulasi bahwa pasokan bisa terganggu sewaktu-waktu, sehingga mereka bersedia membayar harga lebih tinggi untuk mengamankan pasokan.
Dampak ke Harga BBM di Indonesia
Kenaikan harga minyak dunia bisa merembet ke harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Pertamina sebelumnya sudah menaikkan sejumlah harga BBM nonsubsidi pada awal September, sementara Pertamax 92 masih berada di level Rp15.950 per liter untuk wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Kini, harga tersebut berpotensi naik lagi.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menyebut harga Pertamax, Dex, dan produk nonsubsidi lainnya berpotensi berada di kisaran Rp18.000–Rp20.000 per liter jika harga minyak dunia terus bertahan tinggi.
Menurut Eko, belum terlihat tanda-tanda harga minyak akan segera turun. Ia juga menilai tekanan pasar energi akibat konflik di Timur Tengah saat ini lebih besar dibandingkan ketika perang Rusia-Ukraina berlangsung. Perang Rusia-Ukraina memang sempat mengganggu pasokan gas dan minyak Eropa, tetapi konflik di Timur Tengah memiliki potensi yang lebih besar untuk mengganggu jalur pelayaran global.
Jika Pertamax naik ke kisaran tersebut, kelompok kelas menengah akan menjadi salah satu yang cukup terdampak. Mereka yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi dengan BBM nonsubsidi akan merasakan langsung kenaikan biaya transportasi.
Peralihan ke BBM Subsidi
Pertamina mencatat adanya pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex ke Pertalite maupun Biosolar. Selisih harga yang semakin lebar membuat permintaan terhadap BBM subsidi meningkat di sejumlah daerah.
Antrean panjang pun sempat terjadi di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Tengah hingga beberapa wilayah Jabodetabek. Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumen mulai mencari alternatif yang lebih murah, meskipun harus mengantre lebih lama.
Pertamina menyebut kondisi tersebut bukan semata karena stok kosong. Di sejumlah SPBU, kapasitas dispenser dan nozzle BBM subsidi belum cukup menampung lonjakan permintaan. Kendala distribusi juga terjadi di beberapa daerah. Di Banyuwangi, misalnya, penyaluran BBM sempat terganggu kondisi geografis dan infrastruktur sehingga Pertamina harus menggunakan jalur alternatif.
Respons Pemerintah
Sementara itu, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak naik meski harga minyak dunia sedang tinggi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah siap menambah anggaran subsidi untuk menjaga harga tetap terjangkau dan daya beli masyarakat.
Langkah ini diambil untuk melindungi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dari dampak kenaikan harga minyak global. Namun, konsekuensinya adalah beban anggaran negara semakin besar. Pemerintah harus mengalokasikan dana tambahan untuk menutupi selisih antara harga keekonomian dan harga jual BBM subsidi.
Sejauh ini, kenaikan harga minyak lebih berdampak pada BBM nonsubsidi. Namun, jika konflik Timur Tengah berlanjut dan gangguan pasokan energi belum teratasi, tekanan terhadap harga BBM masih bisa berlanjut. Masyarakat perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga BBM nonsubsidi dalam beberapa pekan ke depan.
Dampak bagi Perekonomian
Kenaikan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada harga BBM. Ada efek domino yang lebih luas bagi perekonomian Indonesia.
1. Inflasi
Kenaikan harga BBM nonsubsidi akan mendorong kenaikan biaya transportasi dan logistik, yang pada akhirnya meningkatkan harga barang dan jasa. Ini bisa memicu inflasi yang lebih tinggi, terutama jika kenaikannya signifikan.
2. Daya Beli Masyarakat
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan kenaikan harga BBM dapat membuat konsumen mengurangi pengeluaran lain, beralih ke BBM yang lebih murah, atau mengubah pilihan transportasi. Penurunan daya beli ini bisa berdampak pada sektor ritel dan jasa.
3. APBN
Jika pemerintah menambah subsidi untuk menahan harga BBM subsidi, beban APBN akan meningkat. Ini bisa mengurangi ruang fiskal untuk belanja pembangunan atau program lain yang juga penting.
4. Sektor Energi
Kenaikan harga minyak juga memengaruhi industri energi nasional. Di satu sisi, ini bisa mendorong pendapatan dari sektor minyak dan gas. Di sisi lain, biaya impor minyak mentah dan BBM menjadi lebih mahal, yang membebani neraca perdagangan.
5. Investasi
Ketidakpastian harga energi dapat membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Sektor-sektor yang sangat bergantung pada energi, seperti manufaktur dan transportasi, mungkin menunda ekspansi atau investasi baru.
Langkah Antisipasi yang Bisa Dilakukan
Masyarakat dan pemerintah perlu mengambil langkah antisipasi untuk menghadapi dampak kenaikan harga minyak. Berikut beberapa di antaranya:
Bagi Masyarakat:
-
Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum.
-
Menggunakan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar.
-
Memanfaatkan BBM subsidi jika memenuhi syarat.
-
Mengatur rute perjalanan agar lebih efisien.
-
Mulai beralih ke kendaraan listrik jika memungkinkan.
Bagi Pemerintah:
-
Memastikan penyaluran BBM subsidi tepat sasaran.
-
Meningkatkan cadangan minyak strategis.
-
Mendorong diversifikasi energi terbarukan.
-
Memberikan insentif bagi penggunaan kendaraan listrik.
-
Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Penutup
Harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel menjadi alarm bagi perekonomian Indonesia. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam pasokan global. Dampaknya sudah mulai terasa pada harga BBM nonsubsidi, dan berpotensi meluas ke sektor-sektor lain.
Pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM subsidi agar tidak naik, tetapi beban anggaran semakin besar. Masyarakat perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga BBM nonsubsidi dan mengambil langkah-langkah penghematan.
Situasi ini juga menjadi momentum untuk mempercepat transisi ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dalam jangka panjang, diversifikasi energi adalah kunci untuk melindungi perekonomian dari gejolak harga minyak global.
Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Jika konflik Timur Tengah mereda, harga minyak mungkin akan turun. Namun, jika ketegangan berlanjut, tekanan terhadap harga BBM masih akan berlanjut.
FAQ Seputar Harga Pertamax
1. Berapa harga minyak Brent dan WTI saat ini?
Brent berada di level US$107,51 per barel, sedangkan WTI di US$102,32 per barel.
2. Mengapa harga minyak naik?
Karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan Houthi ke Arab Saudi, penutupan pipa East-West, dan gangguan di Selat Bab el-Mandeb serta Hormuz.
3. Apakah harga Pertamax akan naik?
Pertamina menyebut harga Pertamax berpotensi naik ke kisaran Rp18.000–Rp20.000 per liter jika harga minyak dunia tetap tinggi.
4. Apakah harga BBM subsidi juga naik?
Tidak. Pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak naik dan siap menambah anggaran subsidi.
5. Mengapa terjadi antrean di SPBU?
Karena pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi akibat selisih harga yang semakin lebar. Kapasitas dispenser dan nozzle di beberapa SPBU juga belum cukup menampung lonjakan permintaan.
6. Apa dampak kenaikan harga minyak bagi perekonomian?
Dampaknya meliputi inflasi, penurunan daya beli, peningkatan beban APBN, dan ketidakpastian investasi.
7. Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghemat BBM?
Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke transportasi umum, menggunakan kendaraan hemat bahan bakar, dan mengatur rute perjalanan.
8. Apakah harga minyak akan segera turun?
Belum ada tanda-tanda harga minyak akan segera turun. Situasi bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
9. Apa yang dimaksud dengan pipa East-West?
Pipa minyak milik Arab Saudi yang menjadi jalur alternatif untuk mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Pipa ini ditutup setelah terkena serangan drone.
10. Bagaimana pemerintah menjaga daya beli masyarakat?
Pemerintah menambah anggaran subsidi untuk menahan harga BBM subsidi agar tetap terjangkau. Selain itu, berbagai program bantuan sosial juga terus disalurkan.