Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, mengungkapkan keterkejutannya setelah mengetahui bahwa timnya sudah tujuh tahun tidak pernah menjamu rival abadi, Persib Bandung, di Jakarta. Situasi ini dinilainya sangat merugikan Macan Kemayoran dan bertentangan dengan semangat sportivitas.
Pernyataan tersebut disampaikan Shin Tae-yong di sela-sela latihan Persija di Sawangan, Depok,. Pelatih asal Korea Selatan itu baru menyadari betapa lamanya Persija harus terusir dari kandang sendiri saat menghadapi Persib.
"Tunggu, itu artinya selama 7 tahun kita (Persija) terus bertanding away dan tidak pernah sekalipun main di kandang?" kata Shin Tae-yong dengan nada tidak percaya.
Rencana Duel di GBK
Terdekat, Persija dijadwalkan menjamu Persib pada pekan ke-2 Super League 2026/2027. Laga tersebut direncanakan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Sabtu, 12 September 2026.
Namun, rencana tersebut masih menunggu izin kepolisian. Jika izin tidak keluar, Persija kembali harus mencari lokasi alternatif di luar Jakarta, seperti yang sudah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Shin Tae-yong berharap pihak berwenang memberikan lampu hijau. Baginya, bermain di kandang sendiri adalah hak setiap tim yang seharusnya tidak bisa dicabut begitu saja.
Tujuh Tahun Tanpa Laga Kandang
Terakhir kali Persija menjamu Persib di Jakarta terjadi pada Liga 1 2019. Sejak saat itu, Persija selalu terhalang masalah izin karena berbagai alasan, mulai dari situasi politik hingga isu keamanan di ibu kota.
Akibatnya, duel El Clasico Indonesia selalu digelar di tempat netral atau kandang Persib. Persija tidak pernah lagi merasakan atmosfer GBK saat menghadapi musuh bebuyutannya.
Musim lalu contohnya, Persija harus terusir ke Samarinda untuk menjamu Persib. Bermain jauh dari pendukung sendiri jelas memengaruhi semangat dan performa para pemain.
"Kalau begitu ceritanya, seharusnya Persib Bandung juga bermain di tempat lain dong. Pola pikir saya dalam olahraga selalu bahwa olahraga itu harus fair play (adil)," ujarnya.
Perlakuan Berbeda untuk Persib
Shin Tae-yong membandingkan situasi yang dialami Persija dengan Persib. Menurutnya, Persib tidak pernah mengalami permasalahan izin ketika memainkan laga kandang El Clasico di Bandung.
Ketidakadilan inilah yang membuat Shin Tae-yong geram. Ia menilai tidak seharusnya satu tim mendapatkan keistimewaan sementara tim lain terus menerus dirugikan.
"Kita tidak boleh memberikan keuntungan sepihak kepada tim manapun. Kedua tim harus selalu bertanding secara adil dan dalam kondisi yang sama persis. Itulah semangat olahraga yang sesungguhnya," tegas Shin Tae-yong.
Dampak bagi Persija
Tidak bisa bermain di Jakarta saat melawan Persib jelas memberikan dampak besar bagi Persija. Beberapa dampak yang dirasakan antara lain:
-
Kehilangan dukungan suporter – The Jakmania tidak bisa memadati stadion untuk memberikan dukungan langsung.
-
Hilangnya keuntungan psikologis – Bermain di kandang sendiri biasanya memberikan kepercayaan diri ekstra bagi para pemain.
-
Beban perjalanan – Tim harus menempuh perjalanan jauh ke lokasi alternatif, yang tentu melelahkan.
-
Minimnya pemasukan tiket – Laga melawan Persib selalu menjadi magnet penonton. Kehilangan kesempatan menjual tiket berarti kehilangan potensi pendapatan besar.
-
Rusaknya integritas kompetisi – Perlakuan berbeda antar tim mencoreng semangat fair play yang seharusnya dijunjung tinggi.
Pentingnya Laga Melawan Persib
Shin Tae-yong menegaskan bahwa laga melawan Persib merupakan salah satu partai krusial yang bisa menentukan hasil akhir. Dalam persaingan gelar, kehilangan poin di laga ini bisa berakibat fatal.
Selain itu, laga melawan Persib adalah pertandingan yang paling dinanti oleh para pemain dan suporter. Tidak bisa bermain di kandang sendiri mengurangi arti penting dari rivalitas tersebut.
Harapan untuk Perubahan
Menjelang laga 12 September 2026, Shin Tae-yong berharap situasi berubah. Ia ingin Persija benar-benar bisa menjamu Persib di Jakarta, di hadapan para pendukungnya sendiri.
"STY Harap Persija Dapat Izin Hadapi Persib di Jakarta," demikian bunyi harapan yang disampaikan sang pelatih.
Ia percaya bahwa pertandingan yang digelar di kandang masing-masing akan membuat persaingan menjadi lebih sehat dan adil. Kedua tim memiliki hak yang sama untuk menikmati dukungan penuh dari pendukungnya.
Rivalitas yang Panas
Persija dan Persib adalah dua klub dengan rivalitas paling panas di Indonesia. Pertandingan antara keduanya selalu menyedot perhatian besar, tidak hanya dari pendukung kedua tim, tetapi juga dari masyarakat luas.
Namun, rivalitas ini juga sering kali memicu ketegangan antar suporter. Kekhawatiran akan terjadinya bentrokan menjadi alasan utama mengapa izin untuk menggelar laga di Jakarta kerap kali sulit dikeluarkan.
Meski demikian, Shin Tae-yong meyakini bahwa dengan pengelolaan yang baik, laga di Jakarta bisa berjalan aman. Yang dibutuhkan adalah koordinasi yang solid antara panitia, aparat keamanan, dan kedua kubu suporter.
Dukungan untuk Perubahan Kebijakan
Suara Shin Tae-yong mewakili banyak pihak yang menginginkan perubahan kebijakan terkait penyelenggaraan laga besar di Jakarta. Sudah terlalu lama Persija menjalani laga kandangnya di tempat orang lain.
Para pendukung Persija tentu berharap pihak berwenang dapat memberikan solusi terbaik. Mereka ingin melihat tim kebanggaannya berlaga di GBK, di depan puluhan ribu The Jakmania.
Penutup
Keluhan Shin Tae-yong tentang tujuh tahun tanpa laga kandang melawan Persib adalah suara yang jujur dari dunia olahraga. Fair play bukan hanya soal aturan di lapangan, tetapi juga tentang keadilan dalam penyelenggaraan kompetisi.
Jika laga 12 September 2026 berhasil digelar di GBK, itu akan menjadi titik balik yang positif. Sepak bola Indonesia akan menunjukkan bahwa rivalitas bisa dikelola dengan baik tanpa harus mengorbankan hak salah satu tim.
Semoga harapan Shin Tae-yong dan seluruh pendukung Persija segera terwujud. El Clasico Indonesia di GBK adalah panggung yang layak untuk dua klub terbesar di negeri ini.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Kapan laga Persija vs Persib dijadwalkan?
Laga dijadwalkan pada Sabtu, 12 September 2026, di Stadion Utama GBK.
2. Berapa lama Persija tidak menjamu Persib di Jakarta?
Sudah tujuh tahun sejak terakhir kali di Liga 1 2019.
3. Di mana Persija menjamu Persib musim lalu?
Musim lalu, Persija menjamu Persib di Samarinda.
4. Apa sikap Shin Tae-yong terhadap situasi ini?
Shin Tae-yong menilai situasi ini tidak adil dan bertentangan dengan semangat fair play.
5. Apa harapan Shin Tae-yong?
Ia berharap Persija mendapat izin untuk menjamu Persib di Jakarta.
6. Mengapa izin sering tidak keluar?
Karena alasan keamanan dan kekhawatiran bentrokan antar suporter.
7. Apakah Persib juga pernah mengalami masalah serupa?
Tidak. Persib tidak pernah mengalami masalah izin saat menjamu Persija di Bandung.
8. Apa dampak bagi Persija tidak bermain di Jakarta?
Persija kehilangan dukungan suporter, keuntungan psikologis, pemasukan tiket, dan harus menempuh perjalanan jauh.
9. Siapa yang mendukung keinginan Shin Tae-yong?
Pendukung Persija dan banyak pihak yang menginginkan keadilan dalam penyelenggaraan kompetisi.
10. Apa pesan utama Shin Tae-yong?
Olahraga harus selalu mengedepankan fair play dan keadilan bagi semua tim.