Berita

Sungai Barito Kalimantan Tampak Kering: Ini Kondisi Terkini, Debit Air, dan Wilayah Terparah

Sungai Barito Kalimantan Tampak Kering: Ini Kondisi Terkini, Debit Air, dan Wilayah Terparah

Wilayah yang Paling Terdampak Penyusutan Sungai Barito

Berdasarkan pantauan berbagai sumber resmi dan laporan lapangan sepanjang Agustus 2026, tekanan kekeringan tidak merata di seluruh rangkaian Sungai Barito yang membentang sekitar 900 kilometer dari Pegunungan Schwaner hingga muara di Kalimantan Selatan. Bagian pedalaman atau hulu justru mengalami tekanan paling berat karena kedalaman airnya memang lebih tipis sejak awal, sehingga kapal bertonase besar lebih cepat kehilangan ruang gerak. Tabel berikut merangkum kondisi titik-titik kunci berdasarkan keterangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, BMKG, serta Dinas Perhubungan setempat.

Lokasi Kondisi Normal Kondisi Terkini (Agustus 2026) Status Navigasi
Pelabuhan Muara Teweh, Barito Utara Ketinggian air 5 sampai 11,5 meter Sekitar 0,6 meter hingga di bawah 1 meter Kapal kargo besar lumpuh, hanya kelotok berdaya angkat rendah yang beroperasi
Jembatan Kalahien, Desa Kalahien, Dusun Selatan, Barito Selatan Badan sungai penuh air sepanjang tahun Gosong pasir luas membelah tengah sungai, tersisa lintasan berair selebar sekitar 100 meter Masih dapat dilalui kapal maupun perahu dengan kehati-hatian
Teluk Siwak, Kelurahan Montallat II, Kecamatan Montallat Jalur tunggang kapal tongkang aman Tongkang batu bara bertonase ribuan ton kandas dalam sepekan terakhir periode Juli Terdampar sementara hingga muka air naik
Hulu Sungai Barito, Murung Raya Pemasok air utama dari Pegunungan Schwaner Pasokan air dari hulu berkurang drastik akibat curah hujan sangat rendah Debit turun menyeluruh ke arah hilir

Muara Teweh dan Kawasan Barito Utara

Sekretaris Utama BMKG Guswanto menyebutkan debit air Sungai Barito di Muara Teweh turun drastis hingga tinggal sekitar 0,6 meter dari kedalaman normal yang mencapai 5 sampai 11,5 meter. Data Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Utara memperkuat gambaran itu dengan pencatatan ketinggian air di Pelabuhan Muara Teweh yang berada di bawah satu meter. Akibatnya, kapal tarik dan tongkang pengangkut batu bara yang menjadi komoditas utama pedalaman Kalteng terpaksa bersandar di pinggiran sungai, bahkan sebagian kandas seperti yang terjadi di kawasan Teluk Siwak. Aktivitas pengangkutan barang dan penumpang bertonase sedang masih berjalan terbatas, sementara mobilitas utama kini bergantung pada kelotok yang lambungnya dangkal.

"Akibatnya, transportasi sungai hampir lumpuh," ujar Guswanto menjelaskan kondisi Muara Teweh.

Kalahien, Barito Selatan

Lokasi viral di media sosial berada tepat di bawah Jembatan Kalahien. Gosong pasir yang terbentuk membuat permukaan sungai tampak terbelah dan menyerupai hamparan pantai atau padang gurun. BPBD Barito Selatan mengonfirmasi bahwa Sungai Barito di Desa Kalahien mengalami kekeringan ekstrem. Meski demikian, hasil pemantauan langsung BWS Kalimantan III pada Jumat, 21 Agustus 2026, menunjukkan kanal navigasi utama masih mengalir dengan lebar sekitar 100 meter sehingga kapal dan perahu tetap dapat melintas. Hamparan pasir tersebut sesungguhnya merupakan bagian dasar sungai yang tak lagi tertutup air ketika muka air turun, bukan tanda seluruh badan sungai mengering total.

Hulu di Murung Raya dan Pengaruhnya ke Hilir

Hulu Sungai Barito berada di Kabupaten Murung Raya, di lereng Pegunungan Schwaner. Penurunan curah hujan di kawasan pegunungan ini membuat pasokan air ke hilir menyusut signifikan. Kepala UPTD Dermaga Muara Teweh Muhammad Nurdin pernah menyampaikan bahwa kondisi air sulit diprediksi karena hujan di hulu dapat mendadak menaikkan muka air, lalu kembali turun ketika hujan berhenti. Ketidakpastian semacam ini menyulitkan operator armada dalam merencanakan pelayaran, apalagi bagi kapal dengan sarat air dalam.

Dampak terhadap Transportasi, Distribusi Barang, dan Ekonomi

Sungai Barito adalah urat nadi logistik Kalimantan Tengah. Hampir seluruh kebutuhan pokok, BBM, material konstruksi, serta komoditas ekspor seperti batu bara dan kayu mengandalkan jalur air ini. Ketika kedalaman air merosot, efek berguguran langsung dirasakan berbagai sektor. Warga setempat, Rudi Hermansyah, menyatakan surutnya sungai mulai terasa parah sejak awal Agustus 2026 dan telah mengubah bentang alam sekaligus mengganggu transportasi air.

  • Kecepatan pelayaran melambat. Nahkoda kapal harus meraba-raba bagian sungai yang masih cukup dalam sehingga waktu tempuh bertambah panjang.
  • Kapal besar tertahan. Armada berdraft dalam kerap harus mengantre atau berlabuh karena air tidak lagi menopang bobot muatan penuh.
  • Distribusi bahan pokok tertunda. Pasokan sembako dan kebutuhan lain ke daerah pedalaman berisiko terlambat sehingga harga berpotensi naik.
  • Produksi batu bara terhambat. Tongkang bermuatan ribuan ton tidak bisa berlayar sehingga rantai pengiriman dari tambang ke pelabuhan hilir terganggu.
  • Mobilitas warga menyempit. Perahu penumpang bertonase sedang tetap beroperasi, namun frekuensi dan rute menjadi lebih terbatas.

Gangguan logistik semacam ini berimbulkan tekanan pada aktivitas ekonomi regional. BMKG sendiri menegaskan bahwa fenomena surutnya Sungai Barito membawa konsekuensi serius bagi transportasi, logistik, dan ekonomi regional, terlebih jika pola iklim yang lebih ekstrem ini berlanjut dalam beberapa musim ke depan.

Risiko Lanjutan: Krisis Air Bersih dan Kebakaran Lahan

Penyusutan sungai bukan satu-satunya ancaman. Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Tengah Janang Firman menilai krisis ekologis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito sebagai dampak nyata fenomena "El Nino Godzilla" 2026 yang diperparah rusaknya tatanan ekologi akibat aktivitas manusia, termasuk deforestasi masif. Menurutnya, lonjakan suhu ekstrem dan perubahan bentang alam mendorong wilayah yang dulu relatif aman menjadi sangat rentan kekeringan parah.

Ada dua risiko lanjutan yang patut diwaspadai. Pertama, krisis air bersih bagi rumah tangga di sepanjang sungai yang selama ini mengambil air langsung untuk minum, memasak, dan mandi. Kedua, meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena gambut dan vegetasi mengering. Walhi mendesak pemerintah merumuskan solusi tanggap darurat yang komprehensif agar krisis ini tidak melebar menjadi bencana multidimensi.

Respons Pemerintah dan Pemantauan Resmi

Kementerian Pekerjaan Umum melalui BWS Kalimantan III melakukan pemantauan langsung pada 21 Agustus 2026 menyusul viralnya video hamparan pasir di Sungai Barito. Kepala BWS Kalimantan III Sandi Eriyanto memastikan badan sungai utama di Kalahien masih berair dan berfungsi sebagai jalur transportasi. Sementara itu, Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pemerintah harus bergerak cepat memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang agar masyarakat lebih tangguh menghadapi kekeringan.

  • BWS Kalimantan III terus memantau muka air dan kondisi navigasi di Wilayah Sungai Barito secara berkala selama kemarau.
  • Pemerintah mengimbau publik menilai kondisi sungai secara menyeluruh, bukan hanya dari satu sudut pengambilan gambar.
  • BPBD di kabupaten terdampak memverifikasi laporan warga dan menyiapkan langkah penanganan darurat.
  • Informasi cuaca dan prediksi hujan dapat dimutakhirkan melalui situs resmi BMKG serta kanal resmi Kementerian PU.

Cara Masyarakat Mengantisipasi Dampak Kemarau Panjang

Menghadapi puncak kemarau Agustus hingga September 2026, langkah antisipasi sederhana dapat mengurangi risiko bagi rumah tangga maupun pelaku usaha di kawasan DAS Barito. Beberapa praktik berikut layak diterapkan sejak dini.

  1. Menyiapkan penampungan air cadangan minimal untuk kebutuhan beberapa hari, termasuk air minum dalam kemasan.
  2. Menghemat penggunaan air permukaan dan menghindari pemborosan saat muka sungai berada di titik terendah.
  3. Memonitor informasi resmi BMKG dan BWS Kalimantan III sebelum menjadwalkan pelayaran atau pengiriman barang via sungai.
  4. Menyesuaikan tonase muatan kapal dengan kedalaman air aktual agar terhindar dari kandas.
  5. Menjaga lahan pekarangan dan kebun dari api serta tidak membakar lahan saat indeks kekeringan tinggi.
  6. Melaporkan dini indikasi karhutla kepada petugas BPBD atau Manggala Agni agar penanganan cepat dilakukan.

Kesimpulan

Viralnya penampakan Sungai Barito bak gurun pasir di Jembatan Kalahien merefleksikan tekanan kemarau ekstrem yang benar-benar terjadi di Kalimantan Tengah pada Agustus 2026. Curah hujan kategori rendah 0 sampai 10 milimeter per dasarian, hari tanpa hujan yang mencapai 21 hingga 60 hari di sejumlah wilayah, serta pasokan air dari Pegunungan Schwaner yang menyusut membuat debit sungai jatuh drastis, terutama di Muara Teweh yang tinggal sekitar 0,6 meter dari normal 5 sampai 11,5 meter. Meski demikian, kanal navigasi utama masih berfungsi dengan lebar air sekitar 100 meter di titik pemantauan Kalahien sehingga klaim sungai kering sepenuhnya belum akurat. Titik terparah berada di pedalaman Barito Utara dan Murung Raya, sementara puncak kemarau diprediksi berlangsung hingga September 2026. Pemantauan berkelanjutan oleh BWS Kalimantan III dan BMKG menjadi kunci agar mitigasi transportasi, logistik, dan ketersediaan air bersih dapat berjalan tepat waktu.

FAQ

Apakah Sungai Barito benar-benar kering total?

Tidak. Hasil pemantauan BWS Kalimantan III pada 21 Agustus 2026 memastikan badan sungai utama di sekitar Kalahien masih memiliki aliran air dengan lebar sekitar 100 meter dan tetap dapat dilalui kapal maupun perahu. Yang tampak seperti gurun pasir adalah gosong atau bagian dasar sungai yang tidak lagi tertutup air akibat turunnya muka air.

Berapa ketinggian air Sungai Barito saat ini?

Di Pelabuhan Muara Teweh, Barito Utara, ketinggian air terpantau sekitar 0,6 meter hingga di bawah satu meter, jauh dari kondisi normal 5 sampai 11,5 meter. Di Kalahien, Barito Selatan, tersisa kanal berair selebar sekitar 100 meter dari badan sungai yang jauh lebih lebar.

Apa penyebab utama Sungai Barito menyusut?

BMKG menyebut kombinasi puncak musim kemarau, curah hujan kategori rendah 0 sampai 10 milimeter per dasarian, serta hari tanpa hujan beruntun 11 hingga 60 hari di banyak wilayah Kalteng. Walhi menambahkan faktor penguat berupa fenomena "El Nino Godzilla" 2026 dan deforestasi di DAS Barito yang menurunkan kapasitas simpan air.

Wilayah mana yang paling terdampak?

Bagian pedalaman paling terpukul, yakni Muara Teweh di Barito Utara beserta hulu sungai di Murung Raya, karena kapal dan tongkang bertonase besar kandas atau terpaksa berlabuh. Di Barito Selatan, titik viral Jembatan Kalahien menunjukkan gosong pasir luas meski kanal utama masih dapat dilintasi.

Sampai kapan kondisi ini diperkirakan berlanjut?

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Kalteng mengalami hujan bawah normal dengan puncak kemarau pada Agustus hingga September 2026. Penyusutan debit berpotensi makin nyata selama periode tersebut, dan perbaikan baru terjadi ketika curah hujan kembali meningkat.