Berita

Gunung Merapi Erupsi, keluarkan Awan Panas Sejauh 2 km

Gunung Merapi Erupsi, keluarkan Awan Panas Sejauh 2 km

Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Jumat pagi, 29 Agustus 2026, sekitar pukul 05.47 WIB, gunung api paling aktif di Indonesia ini meluncurkan awan panas guguran (wedhus gembel) dengan jarak luncur mencapai 2 kilometer ke arah barat daya, tepatnya menuju Hulu Kali Krasak dan Kali Bebeng. Beruntung, Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa erupsi ini tidak menimbulkan korban jiwa, mengingat wilayah tersebut telah lama berstatus zona merah dan tidak berpenghuni.

Kronologi dan Data Pengamatan

Kepala BPPTKG, Dr. Agus Budi Santoso, dalam keterangan persnya menyampaikan bahwa awan panas guguran terjadi akibat runtuhnya sebagian kubah lava barat daya yang memang terus tumbuh sejak beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data seismogram, amplitudo maksimal tercatat 35 mm dengan durasi 165 detik. Suara gemuruh dilaporkan terdengar hingga pos pengamatan di Babadan dan Jrakah.

"Material kubah lava barat daya masih sangat banyak. Dengan volume kubah yang terus bertambah akibat ekstrusi magma, potensi guguran dan awan panas akan terus terjadi. Pada musim kemarau seperti ini, pemicu guguran biasanya adalah ketidakstabilan kubah itu sendiri, bukan dari hujan," jelas Agus.

Selain awan panas, erupsi pagi ini juga memicu hujan abu vulkanik tipis di beberapa desa di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, dan Kecamatan Cangkringan, Sleman. Sebaran abu mengarah ke barat daya sesuai arah angin.

Status Gunung Masih Siaga (Level III)

Hingga saat ini, BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Status ini sudah bertahan sejak beberapa waktu terakhir. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada.

BPPTKG telah menetapkan zona bahaya dengan radius sebagai berikut:

  • Radius 5 km dari puncak untuk ancaman awan panas dan guguran lava.

  • Radius 7 km untuk aliran sungai-sungai yang berhulu di Merapi, seperti Sungai Woro (3 km) dan area barat daya (Kali Krasak, Bebeng, Putih) untuk potensi awan panas.

  • Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apapun di zona bahaya tersebut, termasuk aktivitas wisata dan penambangan pasir manual di alur sungai.

Aktivitas Masyarakat dan Rekomendasi

Masyarakat di sekitar lereng Merapi tampak mulai beraktivitas normal kembali setelah sempat panik sesaat saat suara gemuruh terdengar. Meski demikian, hujan abu tipis membuat warga di Dusun Kalitengah Lor dan Srumbung mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah. BPBD Kabupaten Magelang dan Sleman telah membagikan masker gratis serta mengaktifkan kembali posko-posko siaga bencana.

"Kami menghimbau warga untuk selalu menyiapkan tas siaga bencana, memastikan jalur evakuasi dalam kondisi baik, dan mematuhi seluruh rekomendasi BPPTKG. Jangan terpancing berita hoaks atau video lama yang disebarkan ulang seolah-olah kejadian baru yang lebih besar," ujar Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Makwan.

Pemkab Sleman dan Magelang juga mengimbau wisatawan untuk sementara menghindari kawasan wisata lereng Merapi, seperti Bukit Klangon, Bunker Kaliadem, dan area Lava Tour, sampai aktivitas dinyatakan kembali landai oleh BPPTKG.

Mitigasi Jangka Panjang

Letusan awan panas sejauh 2 km ini menjadi pengingat bahwa Merapi adalah gunung yang sangat dinamis. Berdasarkan data BPPTKG, sejak fase erupsi baru dimulai pada 2026, karakteristik letusan Merapi cenderung bersifat efusif dengan pertumbuhan dua kubah lava (barat daya dan tengah), yang diselingi oleh guguran dan awan panas. Berbeda dengan erupsi eksplosif 2010 yang dahsyat, erupsi saat ini berlangsung lebih tenang namun berdurasi panjang.

Para ahli juga menyoroti pentingnya pemetaan jalur evakuasi terbaru, mengingat kondisi alur sungai berubah akibat material vulkanik. Reboisasi dan pengerukan material di sungai-sungai berhulu Merapi terus dilakukan oleh Balai Sabo untuk meminimalisir risiko banjir lahar dingin saat musim hujan tiba nanti.

Penutup

Hingga pukul 10.00 WIB, aktivitas kegempaan guguran di Merapi masih fluktuatif. BPPTKG menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau selama 24 jam penuh. Masyarakat diharapkan hanya mengambil informasi dari kanal resmi seperti BPPTKG, BPBD, dan PVMBG, serta tidak menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang dapat memicu kepanikan.

Gunung Merapi masih berdiri kokoh sebagai pengingat kekuatan alam. Kewaspadaan dan kedisiplinan masyarakat di zona bahaya adalah kunci keselamatan bersama.

FAQ 

1. Apakah erupsi ini berbahaya bagi Kota Yogyakarta?
Tidak. Jarak luncur awan panas hanya 2 km ke arah barat daya, jauh dari pusat kota Yogyakarta yang berjarak sekitar 28 km dari puncak. Masyarakat kota hanya terdampak tipis hujan abu jika angin mengarah ke selatan.

2. Apakah Bandara YIA dan Adi Soetjipto ditutup?
Hingga saat ini belum ada penutupan. Otoritas Bandara Adi Soetjipto dan YIA masih beroperasi normal sambil terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG. Abu vulkanik memang menjadi ancaman, namun sebarannya masih dalam jarak aman.

3. Apa perbedaan awan panas guguran dan letusan eksplosif?
Awan panas guguran (wedhus gembel) terjadi ketika bagian kubah lava yang tidak stabil runtuh ke bawah, lalu bergerak mengikuti alur sungai. Ini berbeda dengan erupsi eksplosif yang melontarkan material ke atas secara vertikal dengan tekanan besar.

4. Saya punya rencana wisata ke Kaliurang minggu ini, amankah?
Sebaiknya ditunda atau dialihkan ke lokasi yang lebih aman. Meskipun Kaliurang berada di radius aman (5 km ke atas), aktivitas di lereng Merapi sangat tidak disarankan saat status masih Siaga (Level III). Patuhi himbauan BPBD setempat.

5. Bagaimana jika terjadi hujan abu deras?
Segera berlindung di dalam rumah, gunakan masker, jangan menggosok mata, dan bilas mata dengan air bersih jika kemasukan abu. Pastikan atap rumah tidak tertutup abu tebal karena berisiko ambruk.

6. Berapa jarak radius aman dari puncak Merapi?
BPBD dan BPPTKG mengimbau minimal radius 5 km untuk aktivitas umum, dan 7 km untuk sektor barat daya (Kali Krasak, Bebeng, Putih) sebagai zona bahaya awan panas.