Berita

Gregoria Mariska Tunjung Resmi Keluar dari Pelatnas PBSI, Ini Alasannya

Gregoria Mariska Tunjung Resmi Keluar dari Pelatnas PBSI, Ini Alasannya

Kabar mengejutkan datang dari dunia bulu tangkis Indonesia. Tunggal putri andalan, Gregoria Mariska Tunjung, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Pelatihan Nasional (Pelatnas) PBSI per 31 Agustus 2026. Keputusan ini diambil setelah melalui diskusi panjang dengan keluarga, pelatih, dan manajemen PBSI. Gregoria, yang selama ini menjadi tumpuan utama sektor tunggal putri, menyatakan bahwa ia ingin fokus pada pemulihan kondisi fisik dan mental, sekaligus membuka lembaran baru dalam kariernya.

Keputusan ini sontak mengejutkan publik bulu tangkis Tanah Air. Pasalnya, Gregoria masih berusia 27 tahun dan berada di peringkat 5 dunia. Namun, di balik itu, ada sejumlah alasan yang mendasari langkah besar tersebut.

Pengumuman Pengunduran Diri Jorji

Pengumuman resmi disampaikan melalui konferensi pers di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, pada Minggu siang. Gregoria hadir didampingi Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, serta pelatih tunggal putri. Suasana konferensi pers berlangsung haru; beberapa staf dan pemain tampak menitikkan air mata.

Dalam sambutannya, Gregoria membacakan pernyataan tertulis yang telah disiapkannya. Ia menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukan karena perselisihan dengan pelatih atau pengurus, melainkan murni keputusan pribadi yang telah dipertimbangkan matang-matang.

"Pelatnas adalah rumah saya selama lebih dari satu dekade. Di sinilah saya tumbuh, ditempa, dan meraih banyak mimpi. Keputusan ini adalah keputusan terberat dalam hidup saya," ujarnya dengan suara bergetar.

Alasan Utama Keluar dari Pelatnas

Ada tiga alasan utama yang disampaikan Gregoria di hadapan media.

a. Pemulihan Cedera Bahu yang Belum Tuntas

Gregoria mengakui bahwa cedera bahu kanan yang dideritanya sejak awal 2026 belum pulih sepenuhnya. Ia memaksakan diri tampil di sejumlah turnamen demi mempertahankan poin peringkat, tetapi kondisinya justru memburuk. Dokter tim menyarankan rehabilitasi intensif selama 4–6 bulan tanpa turnamen.

"Selama ini saya sering main dengan rasa sakit. Setiap ayunan raket, ada nyeri di bahu. Saya tidak ingin memaksakan diri lagi karena itu bisa memperpendek karier saya," jelasnya.

b. Kelelahan Mental dan Tekanan Ekspektasi

Sebagai satu-satunya tunggal putri Indonesia di level elite, Gregoria mengaku kerap merasakan beban berat. Ia selalu dituntut juara di setiap turnamen, sementara lawan-lawannya semakin tangguh. Kondisi ini memicu kelelahan mental yang ia rasakan sejak pertengahan 2025.

"Saya butuh ruang untuk bernapas. Tekanan itu nyata, dan saya merasa sudah kehilangan kegembiraan bermain bulu tangkis," ujarnya jujur.

c. Keinginan Menata Ulang Karier dan Kehidupan Pribadi

Gregoria juga menyiratkan keinginannya untuk menempuh jalur karier baru. Ia menyebut akan tetap berada di dunia bulu tangkis, tetapi dengan peran yang berbeda. Beberapa waktu ke depan, ia berencana fokus pada pendidikan kepelatihan, menjadi mentor bagi pemain muda, dan mengelola akademi bulu tangkis di kampung halamannya di Wonogiri, Jawa Tengah.

Pernyataan Resmi Gregoria

Berikut petikan lengkap pernyataan resmi Gregoria:

"Saya, Gregoria Mariska Tunjung, dengan ini menyampaikan pengunduran diri saya dari Pelatnas PBSI, terhitung mulai 31 Agustus 2026. Keputusan ini saya ambil dengan kesadaran penuh dan tanpa tekanan dari pihak mana pun.

Terima kasih yang tak terhingga kepada PBSI, para pelatih, tim medis, Bapak/Ibu pengurus, serta seluruh rekan-rekan pemain yang telah menjadi keluarga saya selama ini. Terima kasih juga kepada seluruh masyarakat Indonesia yang selalu mendoakan dan mendukung saya di setiap pertandingan.

Saya mohon doa restu agar langkah saya ke depan senantiasa diberi kelancaran. Saya akan tetap berjuang membawa nama baik Indonesia dengan cara yang baru."

Pernyataan tersebut ditutup dengan salam hormat dan senyum khas Gregoria.

Respons PBSI dan Rekan-Rekan Atlet

Pihak PBSI menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas dedikasi Gregoria selama ini. Kabid Binpres menyebut bahwa PBSI akan tetap membuka pintu lebar-lebar bagi Gregoria jika suatu saat ingin kembali.

"Kami memahami dan menghormati keputusan ini. Gregoria telah memberikan banyak kebanggaan bagi Indonesia. Semoga jalan barunya semakin sukses," ujar Kabid Binpres.

Rekan-rekan atlet juga menyampaikan dukungan lewat media sosial. Tunggal putri muda, Ester Nurumi Tri Wardoyo, menulis di akun pribadinya: "Kak Jorji adalah inspirasi saya. Doa terbaik untuk Kak Jorji. Kami akan terus berjuang di lapangan."

Sementara itu, ganda putri andalan, Apriyani/Fadia, ikut mengunggah foto kenangan bersama Gregoria dengan pesan haru.

Dampak bagi PBSI

Kepergian Gregoria meninggalkan lubang besar di sektor tunggal putri Indonesia. Berikut beberapa dampak yang akan dirasakan.

a. Regenerasi Semakin Mendesak

Saat ini, PBSI hanya memiliki beberapa nama potensial di tunggal putri: Ester Nurumi Tri Wardoyo, Komang Ayu Cahya Dewi, dan Ruzana. Ketiganya masih butuh jam terbang untuk menembus level elite dunia. Kehilangan Gregoria memaksa PBSI mempercepat proses pematangan mereka.

b. Posisi Indonesia di Ajang Internasional Melemah Sementara

Gregoria adalah pemain tunggal putri Indonesia dengan peringkat tertinggi. Tanpa dirinya, Indonesia tidak lagi memiliki wakil di 10 besar dunia sektor tunggal putri. Ini akan berdampak pada undian dan peluang medali di turnamen-turnamen besar seperti Asian Games dan Olimpiade.

c. Peluang bagi Pemain Muda

Di sisi lain, kepergian Gregoria membuka kesempatan bagi pemain muda untuk tampil lebih sering di level senior. Ini bisa menjadi berkah jika pembinaan berjalan baik.

Karier Gregoria dalam Angka

Selama berkarier di Pelatnas, Gregoria mencatatkan sejumlah prestasi gemilang:

  • Juara Australia Open 2025

  • Juara Korea Open 2024

  • Runner-up BWF World Tour Finals 2024

  • Medali perunggu Asian Games 2022

  • Medali perunggu Kejuaraan Dunia 2023

  • Peringkat tertinggi dunia: 5

Total gelar BWF World Tour yang diraihnya sebanyak 6 gelar tunggal putri.

Ringkasan Perjalanan Gregoria

Tahun Pencapaian
2017 Debut internasional senior
2022 Medali perunggu Asian Games
2023 Medali perunggu Kejuaraan Dunia
2024 Juara Korea Open
2025 Juara Australia Open
2026 Peringkat 5 dunia, mundur dari Pelatnas

Berani Mengambil Jeda

Keputusan Gregoria untuk mundur di usia 27 tahun mengingatkan pada kasus pemain dunia lain yang memilih memulihkan diri di luar pelatnas. Beberapa pengamat menilai langkah ini justru menunjukkan kedewasaan dan keberanian.

"Gregoria memilih kualitas hidup dan keberlanjutan karier, bukan sekadar mengejar poin. Ini pilihan yang tidak mudah, tetapi patut dihormati," kata pengamat bulu tangkis, Daryadi.

Namun, ada pula yang menyayangkan keputusan ini mengingat posisi Indonesia di tunggal putri belum memiliki penerus yang benar-benar siap. "Harapannya, jeda ini tidak terlalu lama. Bulu tangkis Indonesia butuh sosok seperti Gregoria," ujar mantan pebulu tangkis nasional, Lius Pongoh.

FAQ Seputar Pengunduran Diri Gregoria

1. Apakah Gregoria berhenti total dari bulu tangkis?
Tidak. Ia mundur dari Pelatnas, tetapi masih akan berkarier sebagai pemain profesional atau beralih ke peran lain seperti pelatih dan mentor.

2. Kapan keputusan ini mulai berlaku?
Terhitung mulai 31 Agustus 2026.

3. Apakah ada konflik internal di Pelatnas?
Tidak ada. Gregoria menegaskan keputusan ini murni karena alasan pribadi, kesehatan, dan rencana karier baru.

4. Siapa yang akan menggantikan posisi Gregoria di Pelatnas?
Belum ada pengganti resmi. PBSI akan mengandalkan pemain muda dan melakukan evaluasi menyeluruh.

5. Apakah Gregoria akan bermain untuk klub luar negeri?
Belum ada konfirmasi. Ia menyebut akan fokus pada pemulihan dan pendidikan kepelatihan.

6. Bisakah Gregoria kembali ke Pelatnas suatu saat?
PBSI membuka pintu lebar-lebar jika Gregoria ingin kembali.

7. Bagaimana perasaan para penggemar?
Mayoritas mendukung dan mendoakan. Banyak yang mengapresiasi kejujurannya.

8. Apakah ini keputusan mendadak?
Tidak. Gregoria mengaku sudah memikirkannya sejak tiga bulan terakhir dan berdiskusi dengan keluarga serta pelatih.

9. Apa harapan Gregoria ke depan?
Ia ingin menjadi pelatih dan membangun akademi bulu tangkis di Wonogiri.

10. Apakah cederanya parah?
Cedera bahu kanan memerlukan rehabilitasi 4–6 bulan. Jika dipaksakan, bisa berdampak permanen.

Penutup

Kepergian Gregoria Mariska Tunjung dari Pelatnas PBSI adalah kehilangan besar bagi bulu tangkis Indonesia. Namun, di balik kesedihan, ada harapan baru: pemain muda akan mendapat panggung lebih cepat, dan Gregoria sendiri berpeluang menjadi inspirasi baru dalam peran yang berbeda. Sepak terjangnya di lapangan akan selalu dikenang, dan semangatnya untuk terus berjuang dengan cara apa pun layak diacungi jempol.

Selamat jalan, Jorji. Terima kasih untuk semua kebanggaan yang telah kau berikan.