PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengambil langkah tegas dengan memutus hubungan kemitraan secara permanen terhadap seorang pengemudi GoCar yang memaki serta menurunkan penumpangnya di tengah jalan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Keputusan ini diambil setelah video yang memuat rekaman dugaan pelecehan verbal atau harassment oleh pengemudi tersebut viral di media sosial Threads dan Instagram melalui akun @desifyul. Insiden yang menimpa pemilik akun dan seorang temannya itu terjadi pada Jumat, 11 September 2026.
Head of Media Relations GoTo Group, Amanda Valani, mengonfirmasi tindakan pemutusan mitra secara permanen tersebut. "Betul (sudah dilakukan pemutusan mitra). Statement resmi Gojek sudah kami sampaikan di akun kreator tersebut," katanya saat.
Dalam pernyataan resminya, pihak GoTo menyebutkan bahwa pengemudi terbukti melakukan tindakan yang melanggar standar pelayanan. "Seperti yang telah kami sampaikan melalui percakapan kita, berdasarkan hasil investigasi, mitra driver yang bersangkutan terbukti melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan Gojek. Kami telah mengambil tindakan tegas berupa Putus Mitra (PM)," bunyi pernyataan pihak GoTo.
Keputusan ini menjadi sorotan publik, bukan hanya karena tindakan tegas Gojek terhadap oknum pengemudi, tetapi juga karena membuka diskusi lebih luas tentang sistem tarif layanan hemat yang dianggap merugikan kedua belah pihak. Artikel ini akan mengulas kronologi kejadian, respons GoTo, kritik korban terhadap sistem tarif, serta analisis tentang hubungan antara driver dan penumpang di era transportasi online.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan unggahan video @desifyul, insiden bermula saat ia dan rekannya memesan layanan GoCar fitur Hemat untuk rute perjalanan dari Stasiun Tebet menuju Hangtuah. Permasalahan muncul ketika korban mencoba mengonfirmasi posisi kendaraan melalui sambungan telepon.
"Permasalahannya bermulai dari gue telepon dia, mau ambil orderan enggak. Habis itu dia ditelepon udah agak nyolot dengan bilang, 'Lihat aja di Maps, kan gue lagi jalan ke sana'," katanya dalam video tersebut.
Respons driver tersebut dinilai kurang menyenangkan sejak awal. Ketegangan berlanjut saat kedua penumpang masuk ke dalam mobil. Pengemudi mengekspresikan ketidaksenangannya atas pertanyaan korban, lalu mengeluhkan besaran tarif dari fitur layanan hemat yang ia terima.
"Ini udah pakai GoCarnya yang hemat, gue cuma dapat berapa, aturan enggak usah banyak ribet," ujar pengemudi tersebut sebagaimana ditirukan korban dalam video.
Perdebatan terus berlanjut hingga pengemudi meminta penumpang untuk membatalkan pesanan dan turun di tengah jalan, tak jauh dari titik penjemputan. "Dituruninnya tuh belum jauh dari Stasiun Tebet, baru mau naik ke arah Flyover Kokas, persisnya nama tempatnya enggak ngeh, tapi dekat plang jalan ke atas Kokas," kata pemilik akun @desifyul saat dikonfirmasi Kompas.com.
Dalam video yang diunggah, pengemudi terdengar berulang kali melontarkan makian dan kata-kata kasar sembari menunjuk-nunjuk penumpang. "Lama-lama bikin kesel aja," ucap driver kepada penumpang di dalam mobil. Tak hanya itu, dia juga memaki korban dengan kata-kata kasar lainnya saat korban hendak turun. "Ya lu gua udah bilang, cancel-cancel! Tadi di telepon 'Cabut, cabut, cabut, cabut! Cabut! Cabut!'" kata driver.
Karena merasa terancam, kedua penumpang wanita tersebut akhirnya memutuskan turun dan merekam pelat nomor kendaraan pelaku. Usai kejadian, korban ditolong oleh seorang pengemudi ojol lain di lokasi yang menyarankan untuk segera melaporkan insiden tersebut kepada pihak aplikator.
Respons Gojek
Setelah video tersebut viral, Gojek bergerak cepat melakukan investigasi. Berdasarkan hasil investigasi, pengemudi terbukti melanggar standar pelayanan. Gojek pun mengambil tindakan tegas berupa Putus Mitra (PM) permanen.
Keputusan ini disampaikan langsung kepada korban melalui akun kreator @desifyul. Dalam pernyataan resminya, GoTo menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan terbaik dan menindak tegas setiap pelanggaran.
"Kami telah mengambil tindakan tegas berupa Putus Mitra (PM)," bunyi pernyataan pihak GoTo.
Tindakan Gojek ini mendapat apresiasi dari publik. Banyak yang menilai bahwa aplikator harus bertindak tegas terhadap oknum pengemudi yang melanggar aturan dan merugikan penumpang. Namun, di sisi lain, muncul pula diskusi tentang akar permasalahan yang lebih dalam, yaitu sistem tarif layanan hemat yang dianggap tidak adil bagi driver.
Sistem Tarif Hemat Yang Merugikan
Dalam unggahannya, korban tidak hanya menuntut tindakan tegas terhadap oknum pengemudi, tetapi juga menyoroti akar permasalahan yang menurutnya bersumber dari sistem tarif fitur Hemat pada aplikasi transportasi online. Korban mengkritik sistem tersebut karena dinilai merugikan kedua belah pihak, baik driver maupun pengguna jasa.
"Gue pengin banget semua aplikasi online tolong kaji ulang sistem tarif lu ke driver, terutama di fitur hemat, karena itu bukan merugikan driver aja, tapi juga merugikan gue sebagai customer," tegas korban dalam unggahan videonya.
Kritik ini menyentuh persoalan yang lebih fundamental dalam industri transportasi online. Fitur Hemat, yang menawarkan tarif lebih murah kepada penumpang, sering kali dianggap menekan pendapatan driver. Dengan tarif yang rendah, driver harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan penghasilan yang layak. Kondisi ini dapat memicu stres, kelelahan, dan pada akhirnya menurunkan kualitas pelayanan.
Di sisi lain, penumpang juga dirugikan karena mendapat pelayanan yang tidak profesional. Ketika driver merasa tidak puas dengan tarif yang diterima, mereka mungkin melampiaskan kekesalan kepada penumpang. Ini menciptakan lingkaran setan yang merugikan semua pihak.
Ketegangan antara Driver dan Penumpang
Insiden ini bukanlah kasus pertama yang melibatkan ketegangan antara driver transportasi online dan penumpang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketegangan semacam ini sering terjadi.
1. Sistem Tarif yang Kompetitif
Persaingan antar aplikasi transportasi online sangat ketat. Setiap platform berusaha menawarkan tarif termurah untuk menarik penumpang. Namun, tarif yang murah sering kali tidak sebanding dengan biaya operasional dan tenaga yang dikeluarkan driver. Akibatnya, driver merasa pendapatan mereka tidak layak.
2. Beban Kerja yang Tinggi
Driver dituntut untuk bekerja dalam waktu yang lama untuk mencapai target pendapatan. Jam kerja yang panjang, kemacetan, dan tekanan untuk mendapatkan banyak orderan dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Ketika kelelahan memuncak, emosi pun lebih mudah tersulut.
3. Komunikasi yang Kurang Baik
Dalam banyak kasus, ketegangan terjadi karena komunikasi yang kurang baik antara driver dan penumpang. Perbedaan ekspektasi, cara berkomunikasi, dan tingkat kesabaran dapat memicu kesalahpahaman yang berujung pada konflik.
4. Kurangnya Perlindungan bagi Kedua Belah Pihak
Meskipun aplikator menyediakan fitur pelaporan dan sanksi, sering kali prosesnya lambat dan tidak memuaskan. Baik driver maupun penumpang merasa tidak terlindungi dengan baik. Ini menciptakan rasa ketidakadilan yang dapat memicu perilaku agresif.
Perbaikan Sistem dan Budaya
Untuk mencegah insiden serupa terulang, diperlukan perbaikan yang komprehensif, tidak hanya dari sisi sanksi, tetapi juga dari sisi sistem dan budaya.
1. Kajian Ulang Sistem Tarif
Aplikator perlu mengkaji ulang sistem tarif, terutama untuk fitur hemat. Tarif harus mencerminkan biaya operasional yang wajar bagi driver, sementara tetap terjangkau bagi penumpang. Transparansi dalam perhitungan tarif juga penting agar kedua belah pihak memahami mekanismenya.
2. Peningkatan Kesejahteraan Driver
Aplikator dapat memberikan insentif tambahan, bonus, atau program kesejahteraan bagi driver yang berkinerja baik. Ini akan meningkatkan motivasi dan mengurangi stres akibat tekanan ekonomi.
3. Pelatihan dan Pembinaan
Driver perlu diberikan pelatihan tentang pelayanan prima, komunikasi yang baik, dan manajemen emosi. Pelatihan ini dapat membantu mereka menghadapi situasi sulit dengan lebih profesional.
4. Perlindungan yang Lebih Baik
Aplikator harus memastikan bahwa mekanisme pelaporan dan sanksi berjalan cepat dan adil. Baik driver maupun penumpang harus merasa aman dan terlindungi.
5. Dialog dan Kolaborasi
Aplikator, driver, dan perwakilan penumpang perlu duduk bersama untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada. Dialog terbuka akan menciptakan pemahaman dan solusi yang lebih baik.
Penutup
Insiden pengemudi GoCar yang memaki dan menurunkan penumpang di tengah jalan telah mencoreng nama baik industri transportasi online. Tindakan tegas Gojek dengan memutus kemitraan driver tersebut patut diapresiasi. Namun, insiden ini juga membuka mata kita bahwa ada permasalahan yang lebih mendasar, yaitu sistem tarif yang dianggap tidak adil dan tekanan yang dialami driver.
Perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya dengan sanksi, tetapi juga dengan mengkaji ulang sistem tarif, meningkatkan kesejahteraan driver, dan membangun budaya pelayanan yang lebih baik. Dengan kerja sama semua pihak, transportasi online dapat menjadi layanan yang aman, nyaman, dan menguntungkan bagi semua pihak.
Semoga insiden ini menjadi pelajaran berharga dan momentum untuk perubahan yang lebih baik.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Apa yang dilakukan Gojek terhadap driver yang memaki penumpang?
Gojek memutus kemitraan secara permanen (Putus Mitra) terhadap driver tersebut.
2. Kapan insiden tersebut terjadi?
Insiden terjadi pada Jumat, 11 September 2026.
3. Di mana lokasi insiden?
Insiden terjadi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, tepatnya setelah titik penjemputan di Stasiun Tebet.
4. Apa penyebab awal ketegangan?
Ketegangan dipicu oleh respons driver yang dinilai kurang menyenangkan saat dihubungi melalui telepon, serta keluhan driver tentang tarif fitur Hemat yang rendah.
5. Apa yang dilakukan penumpang setelah kejadian?
Penumpang merekam pelat nomor kendaraan pelaku dan melaporkan insiden tersebut kepada pihak aplikator.
6. Apa kritik korban terhadap sistem tarif?
Korban menilai sistem tarif fitur Hemat merugikan kedua belah pihak, baik driver maupun penumpang, dan meminta aplikator mengkaji ulang.
7. Apakah driver dan penumpang bertemu lagi setelah kejadian?
Tidak. Korban mengonfirmasi bahwa dirinya tidak terhubung kembali secara langsung dengan pengemudi bersangkutan.
8. Apa langkah Gojek selanjutnya untuk mencegah insiden serupa?
Gojek berkomitmen menindak tegas pelanggaran standar pelayanan dan terus meningkatkan kualitas layanan.
9. Apakah ada sanksi hukum bagi driver?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi tentang sanksi hukum. Gojek telah memberikan sanksi internal berupa pemutusan mitra.
10. Apa yang bisa dilakukan penumpang jika mengalami hal serupa?
Penumpang disarankan untuk segera melapor ke aplikator, merekam bukti jika memungkinkan, dan tidak ragu menuntut haknya sebagai konsumen.